Special Plan: Sering Berhubungan Seks Belum Tentu Cepat Hamil, Ini Penjelasan Dokter

bce7eb1c-f0df-40ab-af87-9e8474f8578b-0

Sering Berhubungan Seks Belum Tentu Cepat Hamil, Ini Penjelasan Dokter

Special Plan – Banyak pasangan menganggap bahwa semakin sering melakukan hubungan seksual akan meningkatkan peluang kehamilan. Namun, pendapat ini tidak sepenuhnya benar, menurut dr Jefry Tribowo, dokter spesialis andrologi dan kesehatan reproduksi pria. Menurutnya, frekuensi hubungan seksual yang optimal justru lebih penting daripada jumlah hari berhubungan seksual yang banyak.

Frekuensi yang Ideal, Bukan Frekuensi yang Tinggi

Dalam sebuah video yang diunggah ke akun Instagram dr Jefry, ia menjelaskan bahwa keberhasilan program hamil bergantung pada seberapa sering pasangan melakukan hubungan seksual per minggu. “Kalau berbicara hubungan seksual, apakah teknik yang bisa meningkatkan keberhasilan kehamilan? Jawabannya adalah di frekuensi hubungan seksual. Seberapa sering dia melakukan hubungan seksual per minggu,” ujar dr Jefry. Ia menyarankan pasangan yang sedang mencoba memiliki keturunan agar menjaga frekuensi hubungan seksual dalam rentang dua hingga tiga kali seminggu.

“Nah, jangan salah. Kalau idealnya ya, sedang berusaha memiliki keturunan, paling bagus berhubungan seksualnya itu adalah dua sampai tiga kali seminggu. Itu yang paling bagus,” kata dr Jefry.

Menurut dr Jefry, melakukan hubungan seksual setiap hari bukan selalu menjadi solusi. Meskipun pria dengan kualitas sperma yang baik bisa tetap menghasilkan kehamilan meski berhubungan seksual setiap hari, kondisi ini bisa menjadi kendala bagi pria yang mengalami masalah kesuburan, seperti jumlah sperma yang sedikit atau gangguan fungsi ereksi. “Tiap hari dia juga enggak ngerasa nyaman dan malah terpaksa, tubuhnya dia yang enggak nyaman untuk berhubungan, itu justru menimbulkan kendala,” tambahnya.

Kualitas Sperma dan Faktor Kesuburan

Dr Jefry menekankan bahwa frekuensi hubungan seksual yang tinggi bisa mengurangi kualitas sperma. Jika pria tidak memiliki jumlah atau kualitas sperma yang memadai, maka berhubungan seksual setiap hari tidak akan meningkatkan peluang kehamilan. “Nah, tergantung ya. Kalau dia mungkin spermanya banyak aja, enggak ada masalah. Tapi biasanya ini kadang pasien udah ada gangguan. Spermanya itu dia emang terlalu sedikit, segala macam,” paparnya.

Dalam program hamil, penting untuk menyeimbangkan antara frekuensi dan kualitas. Jika pasangan memaksakan hubungan seksual setiap hari tanpa memperhatikan kondisi tubuh, hal ini bisa mengganggu ritme alami reproduksi. Kesuburan bukan hanya tentang jumlah hubungan seksual, tetapi juga tentang waktu yang tepat dan kondisi fisik yang siap.

Psikologis dan Fisik: Kunci Kesuburan

Dokter ini juga mengungkap bahwa faktor psikologis seperti tekanan atau kelelahan bisa memengaruhi keberhasilan kehamilan. Jika salah satu pasangan merasa tidak nyaman atau stres berlebihan, maka kualitas hubungan intim akan menurun. “Tiap hari dia juga enggak ngerasa nyaman dan malah terpaksa, tubuhnya dia yang enggak nyaman untuk berhubungan, itu justru menimbulkan kendala,” ulangnya.

Dalam situasi seperti ini, mengatur frekuensi hubungan seksual menjadi lebih penting. Pasangan yang dianjurkan melakukan hubungan seksual sebanyak dua hingga tiga kali seminggu tidak hanya memberi waktu bagi tubuh untuk pulih, tetapi juga memastikan bahwa setiap kali berhubungan seksual, pasangan benar-benar siap secara fisik dan mental. Teknik ini menurut dr Jefry bisa meningkatkan kemungkinan kehamilan karena mengurangi risiko kelelahan dan mengoptimalkan kondisi sperma.

Menjaga Konsistensi dan Kualitas

Menurut dr Jefry, konsistensi dan kualitas adalah dua aspek yang saling terkait dalam program kehamilan. Meskipun frekuensi tinggi bisa membantu, kelelahan atau stres yang terus-menerus bisa mengurangi kualitas hubungan seksual. “Kalau berhubungan seksual setiap hari, itu bisa jadi masalah jika tubuh tidak memiliki waktu untuk beristirahat dan mengembalikan energi,” jelasnya.

Dokter ini juga memberi saran bahwa pasangan yang sedang berusaha memiliki anak sebaiknya memperhatikan siklus menstruasi. Momen ovulasi adalah waktu kritis di mana sel telur dikeluarkan dari ovarium, sehingga menjaga frekuensi hubungan seksual di sekitar periode ini bisa meningkatkan peluang kehamilan. Namun, jika pasangan terlalu sering berhubungan seksual, mereka mungkin melewatkan waktu ovulasi, yang bisa mengurangi efektivitas program hamil.

“Tiap hari dia juga enggak ngerasa nyaman dan malah terpaksa, tubuhnya dia yang enggak nyaman untuk berhubungan, itu justru menimbulkan kendala,” katanya.

Dokter spesialis andrologi ini menekankan bahwa setiap pasangan memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda. Beberapa orang mungkin bisa hamil meskipun berhubungan seksual setiap hari, sementara yang lain mungkin perlu menyesuaikan frekuensi dengan interval yang lebih panjang. “Kalau pria memiliki sperma yang cukup, mungkin tidak ada masalah. Tapi kalau sperma sedikit, maka harus ada strategi yang lebih baik,” tegas dr Jefry.

Menurutnya, frekuensi hubungan seksual yang ideal tidak hanya terkait dengan jumlah hari, tetapi juga dengan kestabilan dan keberlanjutan. Pasangan yang memiliki ritme seksual yang konsisten dan memuaskan cenderung lebih mungkin mencapai kehamilan. “Maka dari itu, pasangan yang sedang menjalani program hamil disarankan menjaga frekuensi hubungan seksual sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu,” papar dr Jefry.

Manfaat Frekuensi yang Terkontrol

Dengan menyesuaikan frekuensi hubungan seksual, pasangan bisa menghindari kelelahan fisik dan emosional. Ini memastikan bahwa setiap kali berhubungan seksual, pasangan dalam kondisi yang optimal. Selain itu, pasangan yang menyesuaikan frekuensi juga bisa mengurangi risiko kegagalan program hamil akibat stres atau kelelahan yang berlebihan.

Dr Jefry menambahkan bahwa menyeimbangkan antara kesibukan dan waktu bermesra adalah kunci. Jika pasangan terlalu sibuk atau mengalami tekanan psikologis, maka mengurangi frekuensi hubungan seksual bisa menjadi langkah yang bijak. “Karena tubuh manusia butuh istirahat untuk memulihkan energi, dan pikiran juga butuh waktu untuk fokus pada hubungan yang sehat,” katanya.

Kesimpulannya, frekuensi hubungan seksual yang tinggi tidak selalu berarti peluang kehamilan meningkat. Yang terpenting adalah mengatur waktu dengan baik, menjaga kualitas sperma, dan memastikan bahwa pasangan dalam kondisi fisik dan mental yang siap. Dengan memahami mekanisme reproduksi dan faktor yang memengaruhi kesuburan, pasangan bisa memaksimalkan peluang kehamilan secara lebih efektif.