Kenali kondisi detak jantung lambat yang perlu perhatian medis

heart rate AHA

Kenali kondisi detak jantung lambat yang perlu perhatian medis

Jakarta – Denyut jantung yang berada di bawah batas normal secara terus-menerus bisa menjadi tanda adanya gangguan kardiovaskular yang berisiko tinggi. Menurut Dr. Nityanand Tripathi, direktur utama dan kepala departemen kardiologi di Rumah Sakit Fortis, Delhi, kondisi ini dikenal sebagai bradikardia, yaitu detak jantung yang kurang dari 60 kali per menit.

“Bradikardia sering tidak terdeteksi karena gejalanya tidak jelas, terjadi secara tidak teratur, atau dikaitkan salah dengan faktor seperti stres, kelelahan, atau penuaan,” ujarnya.

Sistem irama jantung berasal dari nodus sinoatrial (SA), yang berfungsi sebagai pengatur alami. Ketika sistem ini mengalami kelemahan, degenerasi, atau gangguan, aliran darah ke organ tubuh bisa terganggu. Hal ini berpotensi memengaruhi fungsi otak, daya tahan fisik, dan kesehatan secara umum.

Kondisi yang Harus Diwaspadai

Gejala bradikardia bisa bervariasi. Tanda awal yang sering muncul meliputi kelelahan berlebihan, kelemahan yang tidak bisa dijelaskan, rasa pusing, serta sensasi tubuh terasa ringan. Jika gejala semakin memburuk, tanda-tanda seperti kebingungan, sesak napas saat beraktivitas rutin, nyeri dada, dan episode pingsan harus mendapat perhatian medis segera.

Dr. Tripathi menekankan bahwa usia lanjut menjadi faktor risiko utama, terutama bagi mereka yang di atas 65 tahun. Sistem konduksi listrik jantung cenderung melemah seiring bertambahnya usia, dan gejala bisa dianggap sebagai tanda penuaan alami, membuat diagnosis tertunda.

Mekanisme Diagnosis

Untuk mengidentifikasi bradikardia, dokter merekomendasikan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) yang bisa mendeteksi gangguan irama. Selain itu, pemantauan jangka pendek menggunakan alat Holter memungkinkan pelacakan episode yang terjadi dalam 24 hingga 48 jam.

Penanganan kondisi ini tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Kondisi ringan mungkin hanya memerlukan penyesuaian obat, sedangkan yang lebih serius bisa membutuhkan intervensi seperti alat pacu jantung. Dalam kasus bradikardia simtomatik yang terus-menerus, pasien sering kali harus menjalani terapi alat pacu.