Facing Challenges: Seafood, Telur hingga Kacang-kacangan Bisa Memperparah Bau Badan, Mengapa?
Seafood, Telur, hingga Kacang-kacangan Bisa Memperparah Bau Badan: Penyebab dan Penanganannya
Facing Challenges - Jakarta – Konsumsi makanan tertentu seperti ikan laut, telur, hati, serta kacang-kacangan ternyata tidak hanya memengaruhi rasa atau tekstur makanan, tetapi juga dapat memperburuk bau badan pada sebagian individu. Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh kurangnya kebersihan atau pola hidup yang tidak sehat, melainkan berkaitan dengan kondisi metabolisme langka yang disebut Trimethylaminuria. Penyakit ini memicu penumpukan zat Trimethylamine (TMA) di dalam tubuh, yang kemudian dilepaskan melalui keringat, napas, urine, dan cairan reproduksi, menghasilkan aroma amis khas seperti ikan busuk.
Proses Metabolisme yang Terganggu
Dalam kondisi normal, tubuh manusia memiliki enzim FMO3 di hati yang bertugas mengubah TMA menjadi Trimethylamine N-Oxide (TMAO), zat yang tidak memiliki bau. Namun, pada penderita Trimethylaminuria, enzim ini mengalami gangguan, sehingga TMA tidak dapat diubah secara efektif. Akibatnya, senyawa ini menumpuk di dalam tubuh dan dikeluarkan melalui saluran tubuh, memicu aroma yang menyengat.
“Normalnya, enzim FMO3 di hati itu mengubah TMA menjadi TMAO yang tidak berbau. Tapi pada penderita, enzim ini rusak atau tidak aktif, sehingga TMA menumpuk di dalam tubuh dan keluar lewat keringat, napas, urine, atau cairan reproduksi,” jelas dr Aditya Surya Pratama, seorang dokter dan influencer kesehatan.
Makanan Pemicu Penumpukan TMA
Trimethylaminuria terjadi karena tubuh tidak mampu mengolah kolin dan senyawa nitrogen yang terkandung dalam beberapa makanan. Bahan-bahan ini, seperti yang dijelaskan oleh dr Aditya, bisa memicu peningkatan produksi TMA, terutama jika metabolisme enzim FMO3 terganggu. Contohnya, ikan laut, telur, hati, dan kacang-kacangan merupakan sumber kolin utama yang bisa menyebabkan efek ini. Pada orang yang sehat, TMA diubah menjadi TMAO, tetapi pada penderita, proses ini gagal, sehingga zat beraroma amis tetap ada dalam tubuh.
Menurut dr Aditya, bau yang dihasilkan bisa sangat dominan setelah konsumsi makanan tertentu. Meski pasien mencuci tubuh atau menggunakan deodoran, aroma tersebut sulit hilang karena TMA terus dilepaskan melalui berbagai saluran. Hal ini membuat kondisi memperburuk kenyamanan sehari-hari dan memengaruhi interaksi sosial.
Genetika dan Faktor Lingkungan dalam Penyebab
Penyebab utama Trimethylaminuria adalah mutasi genetik pada gen FMO3, yang berperan dalam produksi enzim FMO3. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan gen ini bisa membuat kadar TMA meningkat hingga 10 hingga 50 kali lipat dibandingkan individu normal. “Sehingga bau yang keluar sangat kuat dan khas seperti ikan busuk,” tambah dr Aditya.
Beberapa faktor lingkungan juga bisa memperparah gejala. Stres dan kecemasan berlebihan, misalnya, meningkatkan produksi keringat yang menjadi medium untuk melepaskan TMA. Selain itu, kebiasaan makan yang tidak terkontrol, seperti konsumsi makanan tinggi kolin secara berlebihan, berkontribusi pada peningkatan kadar TMA. Oleh karena itu, penderita biasanya dianjurkan untuk memantau asupan makanan sehari-hari dan menghindari pemicu yang memperburuk kondisi.
Pendekatan Terapi dan Perawatan
Trimethylaminuria masih bisa dikendalikan melalui berbagai metode medis. Salah satu langkah utama adalah membatasi konsumsi makanan yang kaya kolin, seperti ikan, telur, hati, dan kacang-kacangan. Ini membantu mengurangi produksi TMA di dalam tubuh.
Dokter sering menyarankan penggunaan antibiotik dosis rendah, seperti metronidazol atau neomycin, untuk mengurangi jumlah bakteri usus yang menghasilkan TMA. Selain itu, activated charcoal bisa digunakan sebagai bantuan, karena zat ini mengikat TMA di saluran pencernaan, sehingga menekan penyerapan ke dalam tubuh. “Yang ketiga, activated charcoal membantu menyerap TMA di usus. Yang keempat, gunakan sabun mandi dengan pH seimbang agar mengurangi pelepasan aroma via kulit,” ujar dr Aditya.
Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar juga sangat penting. Pasien sering merasa cemas atau rendah diri karena bau badannya yang berbeda dari orang lain. Oleh karena itu, perubahan kebiasaan hidup, seperti menjaga kebersihan dan menggunakan bahan-bahan yang tepat, dapat menjadi bagian dari penanganan.
Dampak Psikologis dan Penyesuaian Hidup
Penyakit ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga mengubah pola pikir dan perasaan penderita. Bau amis yang tak bisa dihilangkan sering kali menimbulkan stigma sosial, membuat pasien merasa tidak percaya diri. “Ada studi yang menemukan bahwa lebih dari 70 persen penderita mengalami penurunan kualitas hidup, bahkan sampai kecemasan sosial atau depresi. Hal ini terjadi karena mereka sering dianggap jorok atau tidak menjaga kebersihan,” tambah dr Aditya.
Untuk mengatasi hal ini, perlu adanya pemahaman masyarakat terhadap kondisi ini. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa Trimethylaminuria bukanlah kesalahan individu, tetapi gangguan metabolisme yang jarang terjadi. Dengan pengetahuan yang lebih luas, stigma dapat diminimalkan, dan pasien bisa hidup lebih tenang. Selain itu, penyesuaian kebiasaan hidup, seperti menghindari makanan tertentu dan memperhatikan lingk