{"id":12547,"date":"2026-10-15T20:59:24","date_gmt":"2026-10-15T20:59:24","guid":{"rendered":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/?p=12547"},"modified":"2026-10-15T20:59:27","modified_gmt":"2026-10-15T20:59:27","slug":"gandeng-kementan-agrijurno-latih-135-jurnalis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/?p=12547","title":{"rendered":"Gandeng Kementan, Agrijurno Latih 135 Jurnalis dan Mantan Jurnalis Bisnis Ayam Petelur"},"content":{"rendered":"<h2>Pelatihan Ayam Petelur Buka Jalur Wirausaha bagi Insan Pers<\/h2>\n<p>Eksplorasiindonesia.com &ndash; Sebanyak 135 jurnalis dan mantan jurnalis dari sejumlah daerah mendapat pembekalan mengenai usaha ternak ayam petelur di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini dirancang untuk memperluas pilihan usaha produktif sekaligus memperkuat pemahaman peserta terhadap dunia pertanian dan peternakan.<\/p>\n<p>Bimbingan teknis tersebut berlangsung selama dua hari, dari Rabu, 14 Oktober 2026, sampai Kamis, 15 Oktober 2026. Peserta dibagi dalam dua gelombang: Batch 3 diikuti 67 orang pada hari pertama, sedangkan Batch 4 diikuti 68 orang pada hari berikutnya.<\/p>\n<p>Program ini merupakan kerja sama Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, BBPKH Cinagara-Bogor, serta Yayasan Agrijurno Maju Bersama (AMB). Yayasan AMB menjadi ruang kemitraan bagi jurnalis aktif dan mantan jurnalis yang ingin mengembangkan kapasitas, termasuk dalam bidang kewirausahaan.<\/p>\n<h3>Pembekalan Teknis hingga Perencanaan Usaha<\/h3>\n<p>Materi pelatihan tidak hanya membahas gambaran umum budidaya unggas. Peserta memperoleh pengenalan mengenai pengelolaan kandang, penyediaan pakan, pemeliharaan kesehatan hewan, serta perhitungan usaha. Rangkaian itu penting karena usaha ayam petelur membutuhkan perhatian terhadap aspek produksi dan pengeluaran secara bersamaan.<\/p>\n<p>Peserta juga didorong memahami penyusunan rencana bisnis dan pemasaran. Dengan demikian, pelatihan diarahkan agar wawasan teknis dapat diterjemahkan menjadi persiapan usaha yang lebih terukur, baik untuk usaha perorangan maupun usaha berbasis kelompok.<\/p>\n<p>Sejumlah pejabat dan praktisi hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Komunikasi Publik Kementerian Pertanian Imam Wahyudi, Kepala BBPKH Cinagara Dr Inneke Kusumawaty, serta Sekretaris BPPSDMP Kementerian Pertanian Zuroqi Mubarok.<\/p>\n<p>Imam Wahyudi menyampaikan bahwa pelatihan itu dipersiapkan untuk membangun kemandirian ekonomi melalui sektor agribisnis. Ia melihat keterampilan usaha dapat menjadi bekal tambahan bagi jurnalis maupun mantan jurnalis tanpa mengesampingkan kontribusi mereka dalam menghasilkan karya jurnalistik.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDengan pelatihan ini kita berharap para jurnalis dan mantan jurnalis memiliki bekal entrepreneur untuk mandiri secara ekonomi melalui peternakan ayam, selain tentunya tetap membuat karya jurnalistik yang positif,\u201d ujar Imam Wahyudi, Kamis (15\/10\/2026).<\/p><\/blockquote>\n<p>Gagasan tersebut menempatkan peternakan ayam petelur sebagai salah satu pintu masuk yang dapat dipelajari oleh peserta. Pelatihan memberi kesempatan untuk mengenal kebutuhan dasar usaha, tantangan pengelolaan, serta pentingnya perencanaan sebelum memulai kegiatan ekonomi di bidang peternakan.<\/p>\n<h3>Pengalaman Lapangan untuk Literasi yang Lebih Baik<\/h3>\n<p>Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, menekankan nilai pengalaman langsung dalam pelatihan ini. Pemahaman yang diperoleh dari proses pembelajaran di lokasi peternakan diharapkan dapat memperkaya cara insan pers menyampaikan isu pertanian kepada masyarakat.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDengan pengalaman langsung ini, informasi dan literasi peternakan yang disampaikan para jurnalis kepada masyarakat nantinya akan menjadi lebih mendalam, akurat, dan bermanfaat,\u201d kata Inneke.<\/p><\/blockquote>\n<p>Literasi peternakan memiliki peran penting karena masyarakat membutuhkan informasi yang mudah dipahami mengenai proses menghasilkan pangan. Pengelolaan kandang, pemenuhan pakan, kesehatan ternak, dan analisis biaya merupakan bagian yang saling berkaitan dalam usaha ayam petelur. Pemahaman atas hal-hal tersebut dapat membantu peserta melihat peternakan bukan sekadar aktivitas pemeliharaan hewan, melainkan usaha yang memerlukan ketelitian dan pengambilan keputusan.<\/p>\n<p>Pengurus Yayasan AMB, Yusrizal, menjelaskan bahwa pembinaan ini tidak berhenti pada teori budidaya. Dukungan dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga diarahkan untuk memperkuat kesiapan peserta menyusun business plan dan menentukan langkah pemasaran.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKami berharap kehadiran AMB tidak hanya bermanfaat bagi mantan jurnalis untuk mandiri secara ekonomi, tetapi juga membuka pemerataan akses ekonomi secara luas kepada masyarakat,\u201d ungkap pria yang akrab disapa Pak Cik tersebut.<\/p><\/blockquote>\n<h3>Modal Awal bagi Usaha Mandiri dan Kelompok<\/h3>\n<p>Respons positif datang dari Iskandar, peserta asal Cilegon yang pernah bekerja sebagai jurnalis televisi nasional. Baginya, bimbingan teknis tersebut membantu menumbuhkan semangat kewirausahaan serta memberi modal pengetahuan untuk merintis peternakan, baik secara mandiri maupun bersama kelompok.<\/p>\n<p>Pembagian pelatihan ke dalam dua batch memungkinkan seluruh 135 peserta mengikuti proses pembelajaran dalam kelompok yang lebih teratur. Setiap peserta memperoleh kesempatan untuk memahami tahapan usaha ayam petelur dari sisi teknis hingga perencanaan bisnis, yang menjadi bagian penting sebelum sebuah usaha dijalankan.<\/p>\n<p>Kolaborasi Polbangtan Bogor, BBPKH Cinagara, dan Yayasan AMB diharapkan melahirkan lebih banyak pelaku usaha dari kalangan pers. Selain membuka pilihan kemandirian ekonomi, program ini juga membawa harapan terhadap penguatan ekonomi produktif masyarakat dan ketahanan pangan melalui tumbuhnya minat pada sektor peternakan.<\/p>\n<p>Bagi peserta, pelatihan ini tidak hanya menghadirkan pengetahuan baru, tetapi juga memperlihatkan bahwa keterampilan jurnalistik dan minat berwirausaha dapat berjalan beriringan. Pengalaman memahami rantai usaha peternakan dapat memperluas perspektif, baik ketika menyusun karya jurnalistik maupun saat mempertimbangkan peluang usaha yang berkelanjutan.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\">Latest articles and updates: Gandeng Kementan Agrijurno Latih 135 Jurnalis<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Gandeng Kementan Agrijurno Latih 135 Jurnalis?<\/summary>\n<p>Gandeng Kementan Agrijurno Latih 135 Jurnalis is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Gandeng Kementan Agrijurno Latih 135 Jurnalis matter?<\/summary>\n<p>Gandeng Kementan Agrijurno Latih 135 Jurnalis matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak 135 jurnalis dan mantan jurnalis dari sejumlah daerah mendapat pembekalan mengenai usaha ternak ayam petelur di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":12546,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[547],"tags":[],"class_list":["post-12547","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-regional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12547","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12547"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12547\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12548,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12547\/revisions\/12548"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12546"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12547"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12547"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12547"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}