{"id":11656,"date":"2026-09-11T08:31:09","date_gmt":"2026-09-11T08:31:09","guid":{"rendered":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/?p=11656"},"modified":"2026-09-11T08:33:04","modified_gmt":"2026-09-11T08:33:04","slug":"tim-sar-gabungan-perluas-area-pencarian-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/?p=11656","title":{"rendered":"Tim SAR Gabungan Perluas Area Pencarian 5 Jurnalis Hilang Kontak hingga Perairan Lampung"},"content":{"rendered":"<h2>Pencarian Delapan Orang di Selat Sunda Diperluas hingga Perairan Lampung<\/h2>\n<p>Eksplorasiindonesia.com &ndash; Operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak saat berlayar menuju kawasan Gunung Anak Krakatau terus diperluas. Tim SAR gabungan kini menyisir wilayah laut di selatan dan utara gunung api tersebut, termasuk cakupan perairan Lampung, untuk menemukan rombongan yang terdiri atas lima jurnalis, dua awak kapal, dan seorang pemandu.<\/p>\n<p>Salah satu orang yang masih dicari adalah jurnalis foto iNews, Yudistiro Pranoto. Rombongan itu berangkat dari Dermaga Pagedongan di Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Tujuan perjalanan mereka adalah kawasan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.<\/p>\n<p>Posisi terakhir rombongan diketahui pada pukul 14.42 WIB. Sekitar 22 menit kemudian, tepatnya pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan kapal tersebut terputus. Hingga Jumat, 11 September 2026, keberadaan delapan orang itu belum dapat dipastikan dan pencarian masih berlangsung secara intensif.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cOperasi pencarian terhadap delapan orang yang masih belum diketahui keberadaannya setelah kehilangan kontak di perairan Selat Sunda terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Rombongan tersebut terdiri atas lima jurnalis, dua awak, dan satu pemandu,\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Pernyataan itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan tertulis pada Jumat, 11 September 2026.<\/p>\n<h3>Penyisiran Laut dan Udara<\/h3>\n<p>Tim SAR menjalankan pencarian melalui dua jalur utama, yakni laut dan udara. Di laut, area operasi diperlebar ke sisi selatan Gunung Anak Krakatau hingga sekitar 20 nautical mile atau mil laut dari pusat aktivitas gunung api. Jangkauan penyisiran juga diarahkan ke bagian utara dengan memperhitungkan kondisi arus laut, gelombang, serta arah angin.<\/p>\n<p>Pertimbangan unsur cuaca dan perairan menjadi penting dalam operasi di Selat Sunda. Pergerakan arus dan angin dapat memengaruhi arah hanyut benda di laut maupun kemungkinan lintasan kapal setelah kontak terakhir. Karena itu, tim tidak hanya memusatkan pencarian di titik komunikasi terakhir, tetapi juga mengembangkan area pencarian ke berbagai arah yang dinilai relevan.<\/p>\n<p>Cakupan operasi bahkan menjangkau perairan Lampung. Langkah ini dilakukan untuk memperbesar peluang menemukan rombongan atau petunjuk yang dapat mengarahkan tim ke lokasi mereka.<\/p>\n<p>Dari udara, helikopter dikerahkan untuk melakukan pengamatan di sejumlah wilayah sasaran. Drone juga digunakan sebagai pendukung pemantauan visual. Dalam pencarian udara pada Kamis, 10 September 2026, tim belum mendapati tanda keberadaan delapan orang tersebut di daratan pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Pulau Sertung turut menjadi salah satu lokasi yang diamati. Namun, pemantauan visual di pulau itu belum menghasilkan temuan yang mengindikasikan keberadaan rombongan. Pencarian langsung di Pulau Sertung tetap memerlukan pertimbangan keselamatan ketat karena wilayah tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<h3>Benda Diduga Pelampung Masih Diidentifikasi<\/h3>\n<p>Selama operasi berlangsung, tim menemukan sebuah benda yang diduga berupa pelampung atau jaket keselamatan. Temuan tersebut belum dapat dikaitkan dengan kapal yang membawa delapan orang itu karena proses identifikasi masih berjalan.<\/p>\n<p>Identifikasi diperlukan agar setiap benda yang ditemukan di area operasi dapat diverifikasi secara tepat. Tim SAR belum menyimpulkan apakah benda tersebut merupakan milik rombongan yang hilang kontak. Pencarian pun tetap dilakukan mengikuti ketentuan operasi SAR yang berlaku.<\/p>\n<p>Keterlibatan berbagai unsur memperlihatkan besarnya skala pencarian di kawasan Selat Sunda. Operasi ini melibatkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, BPBD Kabupaten Serang, BPBD Provinsi Banten, TNI dan TNI AL, Polri serta Polairud, unsur SAR Lampung, pemerintah daerah, nelayan, masyarakat, Potensi SAR, dan pihak terkait lainnya.<\/p>\n<p>Koordinasi di lapangan diperlukan karena lokasi pencarian mencakup laut terbuka, pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau, serta area yang dipengaruhi kondisi aktivitas gunung api. Keselamatan personel pencari menjadi bagian penting dalam menentukan pola dan lokasi penyisiran.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cBNPB bersama instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan operasi pencarian di Selat Sunda. Perkembangan situasi akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan di lapangan,\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Berton menyampaikan bahwa informasi tentang kondisi dan keberadaan kedelapan orang tersebut masih menunggu hasil operasi SAR gabungan. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai lokasi rombongan maupun keadaan mereka.<\/p>\n<h3>Daftar Orang yang Masih Dicari<\/h3>\n<p>Rombongan yang berangkat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau terdiri atas lima jurnalis foto serta tiga orang pendukung perjalanan laut. Mereka adalah Yudistiro Pranoto, jurnalis atau pewarta foto iNews; Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency; Donal Husni, jurnalis freelance; M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto Antara; serta Arie Basuki, pewarta foto Merdeka.com.<\/p>\n<p>Tiga orang lainnya ialah Warta sebagai kapten kapal, Surakman selaku kru kapal atau anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu. Mereka dilaporkan hilang kontak tidak lama setelah keberangkatan dari Carita pada Senin siang.<\/p>\n<p>Pencarian akan terus dioptimalkan melalui pemantauan laut dan udara. Perkembangan operasi di Selat Sunda juga berjalan seiring pengawasan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, dengan keselamatan tim pencari tetap menjadi perhatian dalam setiap langkah penyisiran.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\">Latest articles and updates: Tim SAR Gabungan Perluas Area Pencarian 5<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Tim SAR Gabungan Perluas Area Pencarian 5?<\/summary>\n<p>Tim SAR Gabungan Perluas Area Pencarian 5 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Tim SAR Gabungan Perluas Area Pencarian 5 matter?<\/summary>\n<p>Tim SAR Gabungan Perluas Area Pencarian 5 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak saat berlayar menuju kawasan Gunung Anak Krakatau terus diperluas. Tim SAR gabungan kini menyisir<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[507],"tags":[],"class_list":["post-11656","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11656","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11656"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11656\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11657,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11656\/revisions\/11657"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11656"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11656"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11656"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}