{"id":11370,"date":"2026-09-02T19:03:43","date_gmt":"2026-09-02T19:03:43","guid":{"rendered":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/?p=11370"},"modified":"2026-09-02T19:03:58","modified_gmt":"2026-09-02T19:03:58","slug":"deretan-rekor-lionel-messi-usai-pensiun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/?p=11370","title":{"rendered":"Deretan Rekor Lionel Messi usai Pensiun dari Timnas Argentina, Masih di Bawah Ronaldo dan Mbappe"},"content":{"rendered":"<h2>Messi Tutup Babak Internasional: Warisan 21 Tahun yang Tak Tergantikan<\/h2>\n<p>Eksplorasiindonesia.com &ndash; Pada usia 39 tahun, Lionel Messi mengambil keputusan yang telah lama ia renungkan: mengakhiri seluruh keterlibatannya dengan tim nasional Argentina. Pengumuman tersebut datang hanya beberapa pekan setelah ia kembali tampil di final Piala Dunia untuk ketiga kalinya bersama La Albiceleste, mengunci sebuah karier internasional yang membentang selama 21 tahun penuh. Dalam rentang waktu itu, nama Messi terukir dengan empat trofi mayor, 125 gol, 68 assist, dan 207 kali turun ke lapangan \u2014 angka-angka yang menempatkannya di jajaran pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola global.<\/p>\n<h3>Debut dan Dua Dekade di Panggung Terbesar<\/h3>\n<p>Perjalanan Messi bersama tim senior Argentina bermula pada 2005, ketika Jose Nestor Pekerman masih memimpin skuad. Saat itu, pemain kelahiran Rosario itu baru berusia awal dua puluhan dan belum sepenuhnya menjadi jaminan di lini depan. Namun dalam hitungan musim, ia bertransformasi menjadi poros tak tergantikan bagi timnas. Lebih dari dua dekade kemudian, total 207 caps yang ia kumpulkan menjadikannya salah satu pemain paling konsisten dalam sejarah kompetisi internasional. Satu-satunya nama yang berada di atasnya dalam daftar penampilan terbanyak adalah Cristiano Ronaldo, yang telah mencatatkan 233 laga bersama Portugal.<\/p>\n<h3>Empat Trofi dan Puncak di Qatar<\/h3>\n<p>Warisan gelar Messi di level internasional tidak bisa direduksi menjadi sekadar statistik. Ia mengangkat Copa America 2021 dan Copa America 2024, membawa Argentina kembali ke puncak benua Amerika Selatan setelah penantian panjang. Finalissima 2022 menambah satu piala lagi ke koleksinya. Namun mahkota dari seluruh pencapaian itu jatuh di Qatar, ketika Argentina menjuarai Piala Dunia 2022.<\/p>\n<p>Final melawan Prancis menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah turnamen. Messi mencetak dua gol sebelum skor kembali imbang, memaksa laga berlanjut ke adu penalti. Argentina keluar sebagai juara, dan momen itu mengakhiri era penantian 36 tahun negaranya tanpa gelar dunia. Bagi Messi, trofi tersebut bukan hanya piala tambahan \u2014 ia adalah jawaban atas seluruh keraguan yang pernah diarahkan kepadanya selama bertahun-tahun.<\/p>\n<h3>Angka-angka di Balik Nama<\/h3>\n<p>Dari sisi produktivitas gol, Messi menutup karier internasionalnya dengan 125 gol untuk Argentina. Posisi itu menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah sepak bola internasional, terpaut 21 gol dari Ronaldo yang mengoleksi 146 gol bersama Portugal. Rincian distribusi golnya menunjukkan konsistensi lintas format kompetisi: 21 gol dari 34 pertandingan Piala Dunia, 14 gol di Copa America, 36 gol pada laga kualifikasi, dan 54 gol dalam pertandingan persahabatan.<\/p>\n<p>Di Piala Dunia secara spesifik, torehan 21 gol membuat Messi menjadi pencetak gol terbanyak kedua dalam sejarah turnamen tersebut. Satu-satunya pemain yang mengunggulinya adalah Kylian Mbappe, yang memimpin daftar dengan 22 gol. Kesenjangan satu gol itu menegaskan bahwa Messi beroperasi di level yang sama dengan generasi penerus selama bertahun-tahun.<\/p>\n<h3>Raja Assist Internasional<\/h3>\n<p>Di luar kemampuan mencetak gol, Messi juga mendominasi sisi kreasi permainan. Pada Oktober tahun lalu, ia mencatatkan assist ke-60 untuk Argentina dan secara resmi melewati rekor Neymar sebagai pemain dengan jumlah assist terbanyak dalam sejarah sepak bola internasional. Ia terus menambah angka tersebut hingga menutup karier dengan total 68 assist \u2014 rekor yang semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu kreator peluang paling berbahaya yang pernah dimiliki olahraga ini.<\/p>\n<h3>Medali Emas Sebelum Era Senior<\/h3>\n<p>Prestasi Messi bersama Argentina tidak terbatas pada tim senior. Ketika masih memperkuat skuad U-23, ia menjadi figur sentral dalam perolehan medali emas Olimpiade Beijing 2008. Dari lima pertandingan sepanjang turnamen, ia menyumbang dua gol dan tiga assist. Puncaknya datang di Stadion Bird&#8217;s Nest, ketika Argentina menundukkan Nigeria 1-0 pada laga final untuk merebut emas. Bagi seorang pemain yang baru berusia 21 tahun saat itu, pencapaian tersebut menjadi fondasi awal dari seluruh karier internasionalnya.<\/p>\n<h3>Salam Perpisahan<\/h3>\n<p>Setelah melalui proses pertimbangan yang panjang, Messi menyampaikan pesan perpisahan yang sarat emosi kepada publik Argentina. Ia menyebut keputusan itu sebagai salah satu momen paling berat dalam hidupnya sebagai pesepak bola.<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Setelah semua waktu yang berlalu sejak final, dan setelah memikirkannya dengan sangat matang, saya ingin memberi tahu semua orang kalau saya pensiun dari tim nasional.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<blockquote><p>&#8220;Itu adalah keputusan yang menyakitkan dan sampai sekarang masih terasa sangat dalam, tetapi saya memahami kalau sekarang adalah momen yang tepat.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<blockquote><p>&#8220;Saya bersumpah selalu memberikan segalanya, bukan hanya dalam beberapa tahun terakhir ketika kami memenangkan semuanya, tetapi juga jauh sebelum itu.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<blockquote><p>&#8220;Saya selalu berjuang dan memberikan seluruh kemampuan saya untuk seragam ini, demi menghadirkan kebahagiaan kepada kalian dan membuat kalian bangga menjadi orang Argentina melalui sepak bola.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<blockquote><p>&#8220;Waktu tidak tersisa banyak, dan berbagai bab dalam hidup mulai berakhir.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<blockquote><p>&#8220;Ini adalah salah satu bab yang paling menyakitkan bagi saya. Saya mencintai, pernah mencintai, dan akan selalu mencintai menjadi bagian dari tim nasional. Saya sudah memberikan seluruh yang saya miliki, dan saya tidak memiliki lagi yang&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<h3>Implikasi dan Warisan<\/h3>\n<p>Pensiun Messi dari timnas Argentina membuka babak baru bagi sepak bola negara tersebut. La Albiceleste kini harus membangun identitas baru tanpa figur sentral yang telah mendominasi lini depan selama lebih dari dua dekade. Bagi penggemar di Rosario maupun di seluruh dunia, keputusan ini menandai berakhirnya sebuah era \u2014 era di mana satu nama menjadi sinonim dari kebangkitan, penderitaan, dan akhirnya kebanggaan nasional. Statistik yang ia tinggalkan tidak akan mudah dikejar oleh siapa pun dalam waktu dekat, dan posisi Messi sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola internasional kini sepenuhnya terkonfirmasi oleh waktu.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\">Latest articles and updates: Deretan Rekor Lionel Messi usai Pensiun<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Deretan Rekor Lionel Messi usai Pensiun?<\/summary>\n<p>Deretan Rekor Lionel Messi usai Pensiun is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Deretan Rekor Lionel Messi usai Pensiun matter?<\/summary>\n<p>Deretan Rekor Lionel Messi usai Pensiun matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada usia 39 tahun, Lionel Messi mengambil keputusan yang telah lama ia renungkan: mengakhiri seluruh keterlibatannya dengan tim nasional Argentina<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[541],"tags":[],"class_list":["post-11370","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sport"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11370","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11370"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11370\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11371,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11370\/revisions\/11371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11370"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11370"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/eksplorasiindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11370"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}