Hasil Pertemuan: Teka-teki Posisi Indonesia di Board of Peace Usai Pecahnya Perang Iran
Teka-teki Posisi Indonesia di Board of Peace Usai Pecahnya Perang Iran
KOMPAS.com – Penyelenggaraan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, yang berujung pada kematian Ayatollah Ali Khamenei, memicu ulasan kritis terhadap peran Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Forum internasional ini dirancang AS untuk mempercepat proses damai di wilayah Timur Tengah. Beberapa kelompok masyarakat sipil, termasuk Majelis Ulama Indonesia, para akademisi, serta organisasi kependudukan, mulai mempertanyakan keterlibatan Indonesia di sana.
Aliansi mahasiswa dari Universitas Indonesia bahkan mengusulkan evaluasi ulang terhadap keanggotaan BoP. Pemerintah Indonesia, hingga kini, belum memutuskan langkah pasti mengenai posisinya dalam forum tersebut. Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan pembahasan tentang BoP sementara ditunda, sebab fokus pemerintah kini tertuju pada perluasan konflik di Iran.
“Ini semua pembicaraan BoP ditunda, perhatian pemerintah bergeser ke situasi di Iran,” ujar Sugiono.
Sugiono menambahkan bahwa Indonesia masih berkomunikasi dengan kedua belah pihak konflik, AS dan Iran, untuk memantau perkembangan. “Kita menunggu beberapa hari dan minggu ke depan sebelum mengambil keputusan,” katanya.
Peluang Keberhasilan BoP Dipertanyakan
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengungkapkan bahwa Prabowo Subianto sedang mengevaluasi kembali partisipasi Indonesia dalam BoP. Menurutnya, konflik terbaru mengurangi peluang forum ini untuk mencapai kesuksesan. “Dengan perang di Iran, potensi BoP untuk berhasil bisa menurun,” tutur Hassan.
Di sisi lain, Lina Alexandra, kepala Departemen Hubungan Internasional CSIS, mengatakan kehati-hatian pemerintah Indonesia mungkin disebabkan oleh pertimbangan geopolitik, terutama dalam hubungan dengan AS. “Ada kemungkinan pemerintah takut jika tidak menerima BoP, akan ada tekanan dalam negosiasi tarif dengan Amerika Serikat,” jelas Lina kepada DW.
“Intinya, kita tidak ingin membuat Trump marah,” tegas Lina.
Kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya menjadi alasan utama, kini diperkirakan tak lagi relevan setelah AS membatalkan beberapa keputusan tersebut. “Apakah itu masih menjadi pertimbangan? Karena kita juga tak tahu apakah agreement itu masih berlaku,” tanya Lina.
Respons Indonesia Terhadap Serangan Iran
Lina juga mengkritik minimnya respons resmi Indonesia terhadap serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Menurutnya, Indonesia seharusnya konsisten dalam mendukung penghormatan kedaulatan negara, seperti halnya di isu Palestina. “Kalau kita mendorong perlindungan kedaulatan di Palestina, prinsip yang sama juga seharusnya berlaku dalam kasus lain,” imbuhnya.
Meski begitu, Hadza Min Fadhli Robby, dosen hubungan internasional dari Universitas Islam Indonesia, berpendapat bahwa partisipasi Indonesia di BoP tidak secara otomatis memengaruhi dinamika konflik. “Beberapa negara anggota BoP, seperti Turki dan Qatar, justru memiliki pengaruh lebih besar karena hubungan langsung dengan pihak terlibat,” kata Hadza.
Iran sendiri telah memilih pemimpin baru, dengan nama yang sebelumnya disebut oleh Trump. Namun, dampak keanggotaan Indonesia dalam BoP masih menjadi misteri, terutama dalam konteks perang yang semakin memanas.
