Agenda Utama: Indonesia dorong penguatan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara

2ec04542 e738 47eb b1c5 4d53a74d5308 0

Indonesia dorong penguatan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara

Kuala Lumpur menjadi panggung untuk kolaborasi antara Konsulat Jenderal Indonesia (KJRI) Johor Bahru dan perwakilan Bank Indonesia (BI) di Singapura. Mereka bersama-sama mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional sebagai upaya meningkatkan kedaulatan ekonomi Indonesia dan Malaysia.

Dalam konteks ketidakpastian geopolitik global dan risiko ketergantungan pada dolar AS, penggunaan rupiah serta ringgit dianggap lebih efisien. Fluktuasi nilai tukar, biaya konversi berlapis, dan tekanan eksternal menjadi alasan utama mengapa kedua negara perlu mendorong transaksi berbasis mata uang lokal. Ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas ekonomi bilateral.

Forum strategis untuk mendorong LCT

Di Johor Bahru, Rabu (1/4), diadakan forum bertajuk “Manfaat Transaksi Mata Uang Lokal (LCT) Indonesia–Malaysia untuk Penguatan Pertumbuhan Ekonomi Bilateral.” Diskusi ini melibatkan ahli dari BI, Bank Negara Malaysia, dan Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur. Mereka menyebutkan bahwa sistem LCT bisa menghilangkan biaya konversi ganda dan menurunkan biaya logistik, memberikan manfaat langsung bagi sektor usaha.

Dengan dukungan infrastruktur pembayaran modern berbasis barcode seperti QRIS dan DuitNow, penggunaan rupiah serta ringgit secara langsung mampu memperkuat konektivitas keuangan dan mengoptimalkan potensi ekonomi kedua negara, termasuk UMKM.

Menurut Budi Satria, Analis Eksekutif Kantor Perwakilan BI di Singapura, LCT adalah strategi taktis untuk meningkatkan efisiensi transaksi antarnegara. Meski kerangka kerja LCT sudah diperkenalkan sejak 2016, pemanfaatannya masih perlu dipercepat.

KJRI Johor Bahru menekankan bahwa pendekatan LAJU menegaskan bahwa mata uang lokal bukan sekadar alat teknis, tetapi cara untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan integrasi regional. Konjen Sigit S Widiyanto menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia sangat erat, khususnya dalam bidang ekonomi, geografis, dan budaya.

Dalam konteks ini, 8 dari 11 terminal feri penumpang internasional yang menghubungkan kedua negara terletak di Johor. Mobilitas masyarakat juga intensif, dengan 2,6 juta wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia dan 3,8 juta wisatawan Indonesia yang datang ke Malaysia untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata dan pendidikan.

Meskipun penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan meningkat, sebagian besar transaksi masih bergantung pada dolar AS. Pada 2025, volume perdagangan Malaysia-Indonesia dalam rupiah dan ringgit hanya mencapai 16,3 persen atau sekitar 10,6 miliar ringgit. KJRI Johor Bahru menyoroti pentingnya kolaborasi lebih lanjut untuk mendorong penggunaan LCT secara optimal.