eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Ketika Sampah Menjelma Ondel-Ondel, Kisah Lukman Bangkit dari Masa Sulit Didukung BRI

Published Juni 25, 2026 · Updated Juni 25, 2026 · By Michael Davis

Ketika Sampah Menjelma Ondel-Ondel, Kisah Lukman Bangkit dari Masa Sulit Didukung BRI

Latest Program - Dari sudut rumah di Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Lukman Hakim dengan tangan terampil mengolah botol plastik bekas yang menumpuk menjadi bentuk yang unik. Awalnya, benda-benda yang dianggap sebagai sampah itu hanya dijadikan bahan untuk dekorasi sederhana, namun perlahan berubah menjadi karya seni yang mendatangkan penghasilan. Proses kreatif ini membutuhkan keahlian dan ketekunan, terutama untuk mengubah limbah menjadi miniatur ondel-ondel yang mencolok dan bernilai tinggi.

Momen Pemulihan dari Keterpurukan

Kisah Lukman bermula pada 2004, ketika ia menghadapi tantangan finansial setelah lahirnya anak keduanya. Gaji yang ia peroleh sebagai petugas keamanan di SCBD, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. "Di 2004 itu, kalau kita ngandelin gaji, kayaknya enggak cukup punya anak dua. Beli susu aja susah," ujarnya, menjelaskan bagaimana kebutuhan tambahan muncul dari situasi yang kritis.

Ketekunan Lukman akhirnya membawa ia ke arah yang tak terduga. Ia mulai mencoba menggali potensi bahan daur ulang, khususnya botol plastik yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Hasil kreasi pertama ini mungkin tidak langsung mengubah kehidupannya, tapi menjadi awal dari perjalanan menuju keberhasilan. Seiring waktu, keahliannya dalam memotong dan merangkai plastik mulai dikenal, dan permintaan dari warga kian meningkat.

Bahan dan Teknik yang Tepat

Membuat ondel-ondel mini membutuhkan eksperimen terhadap berbagai jenis botol. Lukman menyebutkan bahwa ia mencoba berbagai bahan sebelum menemukan yang paling sesuai. "Awalnya kita eksperimen. Botol apa aja. Beberapa botol dicobain dulu. Dicoba semua. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," tuturnya.

Selain botol, Lukman juga memanfaatkan limbah kain dari konveksi di sekitar rumahnya. "Kadang kita pesan limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," kata pria berusia 56 tahun itu. Dengan memadukan bahan daur ulang tersebut, karyanya semakin menonjol. Setiap pasang ondel-ondel mini yang ia buat menggabungkan keindahan dan keunikan, dengan harga yang bervariasi. Dari Rp25.000 untuk reseller hingga Rp35.000 untuk pembeli langsung, produk ini kini terkenal di berbagai toko mainan di Jakarta Selatan.

Permintaan yang Naik Selama HUT Jakarta

Permintaan terhadap karyanya mencapai puncak saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Dalam masa perayaan tersebut, jumlah produksi meningkat drastis. "Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin tuh hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis. Ini baru mulai lagi nih," ujarnya, menunjukkan betapa besar kontribusi usahanya terhadap ekonomi lokal.

Usaha yang dijalankannya sejak 2013 ini bukan hanya menghasilkan keuntungan, tapi juga menjadi bentuk inovasi dalam mengurangi sampah plastik. Dengan mengolah ratusan botol bekas, ia mampu mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan mampu menambah penghasilan. Dukungan dari tetangga dan kerabat juga menjadi faktor penting, karena mereka menyerahkan botol-botol yang tidak terpakai untuk diteruskan ke Lukman.

Dukungan Permodalan dari BRI

Di balik kesuksesannya, Lukman mengakui bahwa dukungan finansial dari BRI melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu penggerak utama. Ia mengungkapkan bahwa dana pertama yang ia peroleh pada 2019 sebesar Rp20 juta membantu memperluas skala usahanya. "Saya pinjam sebelum Covid-19, 2019 kalau enggak salah. 2019 saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam, cat, alat-alat kerja," katanya.

Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, seperti styrofoam yang digunakan sebagai dasar karya, serta alat-alat produksi yang diperlukan. Selain itu, sebagian dana juga dialokasikan untuk membantu biaya pendidikan anaknya yang baru lulus sekolah. Dalam situasi pandemi, Lukman kembali mendapat akses KUR BRI sebesar Rp50 juta, yang diperuntukkan untuk renovasi rumah dan peningkatan stok bahan.

Kerja sama dengan BRI tidak hanya berupa dana. Pihak bank juga aktif memberikan bantuan, baik dalam teknis produksi maupun promosi. "Sisanya belanja aja kebutuhan stok, cetak merek hampir 10.000 lembar, stok plastik kemasan," tambahnya. Dengan dana dari KUR, Lukman mampu memperkuat bisnisnya, sehingga bisa memenuhi permintaan yang meningkat tajam selama momen HUT Jakarta.

Kepedulian Komunitas dan Karya Seni Betawi

Selama ini, Lukman tidak hanya memanfaatkan sampah plastik, tetapi juga turut melestarikan budaya Betawi. "Saya ada dapat tantangan dari lurah. Lurahnya ibu-ibu, 'Mana lu bikin yang kecil? Saya tahu kalau kamu yang gede saya tahu kamu bisa. Coba bikin yang kecil'," ujarnya, menjelaskan bagaimana ia mendapat dorongan dari komunitas lokal.

Bersama pemuda sekitar, Lukman berupaya menghidupkan kembali seni tradisional Betawi. Miniatur ondel-ondel buatannya dianggap sebagai bentuk inovasi yang mencerminkan kreativitas generasi muda dalam menggabungkan seni tradisional dengan bahan daur ulang. Meski terkesan sederhana, karyanya menunjukkan potensi ekonomi yang besar, terutama di tengah situasi ekonomi yang sulit.

Kini, usahanya menjadi contoh nyata bagaimana seseorang bisa bangkit dari kesulitan dengan kreativitas dan dukungan masyarakat. Ratusan pasang ondel-ondel yang ia buat dijual ke toko-toko di kawasan Pondok Labu, Kebayoran Lama, hingga Depok. Produksi terus berkembang, dan Lukman tak pernah berhenti mengembangkan ide baru untuk meningkatkan kualitas produk.

Dari keadaan yang sempit, Lukman berhasil menciptakan usaha yang memberi dampak positif. Ia menggabungkan kebutuhan keluarga dengan pelestarian budaya, sekaligus menyelesaikan masalah sampah plastik. Kisahnya bukan hanya tentang ketekunan, tapi juga tentang kerja sama antara individu dan institusi dalam menciptakan perubahan yang bermakna.

Pengembangan Usaha yang Terus Berjalan

Dalam beberapa tahun terakhir, usaha Lukman terus berkembang. Ia menyebutkan bahwa proses produksi kini lebih terstruktur, dengan sistem konsinyasi yang membantu menjangkau pasar lebih luas. "Variatif. Ada yang 10, ada yang 50, ada yang 30. Tinggal tergantung penjualannya aja. Ramai atau enggaknya," ujarnya, menunjukkan fleksibilitas dalam menyesuaikan jumlah produksi.

Kisah Lukman juga menjadi inspirasi bagi warga sekitar. D