Agenda Utama: Titiek Soeharto: Pembahasan Bulog jadi badan otonom masih berjalan

77d44c80 4954 4acc a3c1 1f88f77e2b29 0

Titiek Soeharto: Pembahasan Bulog jadi badan otonom masih berjalan

Jakarta – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi yang dikenal dengan Titiek Soeharto, mengatakan bahwa diskusi mengenai rencana Perum Bulog ditransformasi menjadi lembaga otonom masih dalam proses di Komisi IV. Menurut Titiek, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menyelesaikan pembahasan ini. “Pembahasan mengenai rencana tersebut belum selesai, kita masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah,” ungkapnya setelah rapat kerja dengan sejumlah menteri dan perwakilan BUMN pangan di Jakarta, Selasa.

“Masih, masih (pembahasan),” sambung Titiek kepada wartawan.

Titiek menegaskan bahwa proses ini tidak bisa dihentikan sebelum ada arah yang jelas dari pemerintah. “Kita perlu mengetahui keinginan pemerintah terlebih dahulu sebelum lanjut ke tahap lebih lanjut,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa DPR dan pemerintah tetap berkomunikasi untuk memastikan prosesnya berjalan lancar.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menambahkan bahwa perubahan status Bulog menjadi lembaga mandiri adalah wewenang DPR melalui revisi Undang-Undang Pangan. Revisi ini sedang dalam tahap penyusunan di Komisi IV, dengan dukungan dari Komisi VI yang juga memacu percepatan penyelesaiannya. “Revisi undang-undang ini akan membuat Bulog otomatis menjadi badan otonom sesuai aturan baru,” jelas Rizal di Jakarta, Rabu (21/1).

Rencana transformasi ini pertama kali diumumkan pada awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah agar Bulog tidak lagi bertindak sebagai korporasi atau BUMN yang mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi fokus pada fungsi non-komersial seperti penyangga pasokan dan stabilisasi harga. Dengan kelembagaan yang lebih mandiri, pemerintah mengharapkan pencapaian swasembada pangan pada 2027.

Bulog direncanakan mengelola sembilan bahan pokok utama, termasuk beras, jagung, minyak goreng, gula, telur, susu, kedelai, serta komoditas lainnya. Langkah ini bertujuan memperkuat ketersediaan pasokan, menurunkan harga kebutuhan pokok, dan meningkatkan ketahanan pangan nasional. “Kita ingin Bulog bisa beroperasi lebih efisien dan berfokus pada peran utamanya,” kata Rizal.