Agenda Utama: Mentan sebut peremajaan tebu dilakukan dengan anggaran Rp1,7 triliun

Jakarta – Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menyampaikan pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,7 triliun untuk peremajaan lahan tebu (bongkar ratoon) sebagai langkah strategis meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Dalam rapat kerja dengan DPR RI di Jakarta, Rabu, Amran mengatakan anggaran tersebut dialokasikan untuk mendukung program bongkar ratoon seluas 100.000 hektare setiap tahun guna menggantikan tanaman tebu tua yang sudah tidak produktif di berbagai daerah. "Kami anggarkan (tahun) 2025 itu Rp1,7 triliun dan itu hibah APBN untuk bongkar ratoon untuk masyarakat.
Kami yakin insya Allah kalau ini konsisten tahun 2027 itu swasembada gula putih, kemudian kita lanjutkan untuk industri," kata Amran. Ia menegaskan sektor pertanian memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, sehingga penguatan subsektor perkebunan tebu menjadi prioritas pemerintah saat ini. Ia menyebutkan kebutuhan gula nasional yang mencapai sekitar 6,7 juta ton masih jauh dari produksi dalam negeri sebesar 2,67 juta ton, sehingga diperlukan langkah percepatan peningkatan produksi secara signifikan.
Salah satu kendala utama adalah kondisi ratoon yang sudah tua, di mana sekitar 70-80 persen dari 500.000 hektare tanaman tebu tidak lagi layak sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas secara nasional. Oleh karena itu, dia mengatakan pihaknya akan melakukan peremajaan tebu sekitar 300.000 hektare secara bertahap, setiap tahun ditargetkan bisa dilakukan 100.000 hektare. "Salah satu persoalan utama adalah rendahnya produktivitas akibat tanaman tebu ratoon yang sudah tua dan rusak, dengan sebagian besar tidak lagi layak sehingga perlu dilakukan peremajaan secara masif," ujar Amran.
Mentan menjelaskan idealnya peremajaan lahan dilakukan minimal 25 persen setiap tahun, namun saat ini realisasinya masih sekitar 10 persen sehingga perlu percepatan melalui dukungan anggaran. Program peremajaan itu dilaksanakan melalui kolaborasi pemerintah dengan sektor swasta dan BUMN seperti PTPN untuk memastikan peningkatan produktivitas berjalan optimal di lapangan. Ia optimistis jika program tersebut konsisten dijalankan, Indonesia dapat mencapai swasembada gula konsumsi pada 2027 dan selanjutnya memperkuat produksi gula untuk kebutuhan industri.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pengembangan pemanfaatan molase menjadi etanol guna meningkatkan nilai tambah serta mengatasi persoalan kelebihan pasokan yang belum terserap pasar. Mentan juga menyoroti pentingnya pengendalian gula rafinasi agar tidak masuk ke pasar konsumsi, karena hal tersebut dapat menekan harga dan merugikan petani tebu di dalam negeri. Dengan pendekatan holistik mulai dari peremajaan, penguatan regulasi, hingga pengembangan industri turunan, pemerintah optimistis sektor gula nasional dapat bangkit dan berdaya saing kuat di masa depan.
