eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Usai Idul Adha – Harga Cabai Rawit di Jombang Meroket Tembus Rp100.000 per Kg

Published Juni 2, 2026 · Updated Juni 2, 2026 · By Thomas Garcia

Usai Idul Adha, Harga Cabai Rawit di Jombang Meroket Tembus Rp100.000 per Kg

Usai Idul Adha - Setelah perayaan Hari Raya Idul Adha, harga berbagai jenis cabai di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mengalami peningkatan drastis. Komoditas bumbu dapur ini justru semakin mahal, membuat para pedagang dan konsumen merasa kewalahan. Fenomena ini terlihat jelas di Pasar Citra Niaga Kota Jombang, tempat pedagang lokal mengeluhkan kenaikan harga yang signifikan. Khususnya cabai rawit, yang menjadi bahan utama dalam masakan sehari-hari warga, mencapai titik tertinggi sebesar Rp100.000 per kilogram (kg), memicu ketegangan di kalangan masyarakat.

Kenaikan harga tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan secara bertahap sejak sebelum perayaan kurban. Menurut Mujiati, salah satu pedagang sayur di Pasar Citra Niaga, peningkatan ini sudah terasa sebelum Idul Adha dan mencapai puncaknya hari ini. “Seluruh jenis cabai ikut naik, termasuk cabai merah besar dan cabai rusak,” ujarnya, Senin (1/6/2026). Mujiati menambahkan, cabai merah besar yang sebelumnya dijual Rp40.000 per kg kini melonjak ke Rp70.000, sementara cabai rusak yang awalnya Rp18.000 per kg kini mencapai Rp30.000. Kenaikan tersebut mengganggu keseimbangan belanja harian masyarakat, terutama keluarga dengan anggaran belanja terbatas.

“Yang naik bukan cabai rawit saja, cabai jenis lainnya juga pada ikutan naik. Cabai merah besar dari sebelumnya Rp40.000 sekarang naik Rp70.000. Cabai rusak juga naik dari Rp18.000 per kg jadi Rp30.000,” ungkap Mujiati.

Pedagang lain juga menyampaikan kesulitan menghadapi situasi ini. Mereka mengakui bahwa faktor cuaca ekstrem menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga. Wilayah sentra produksi cabai, seperti Kecamatan Mojosari dan Kecamatan Kertosono, mengalami badai musim panas yang memicu kekeringan. Kondisi ini menyebabkan beberapa lahan pertanian rusak, sehingga hasil panen tidak optimal. “Cuaca yang tidak menentu membuat banyak tanaman cabai mati sebelum waktunya,” kata salah seorang pedagang, menjelaskan kekhawatiran atas kelangkaan pasokan.

Lonjakan harga juga dipengaruhi oleh permintaan pasar yang tinggi pasca-Hari Raya Idul Adha. Sebagai bahan pokok masakan, cabai rawit digunakan dalam berbagai olahan, dari masakan tradisional hingga hidangan modern. Selama perayaan, konsumsi cabai meningkat drastis karena banyak keluarga memasak menu lebaran yang membutuhkan bahan-bahan pedas. Dengan pasokan yang menipis, harga secara otomatis melonjak. Distributor pun belum bisa memberikan penjelasan pasti mengenai penyebab utama kenaikan ini, meski banyak pedagang memperkirakan bahwa cuaca ekstrem berkontribusi besar.

Pasokan cabai yang kurang mencukupi membuat harga di tingkat pedagang besar (agen) terus mengalami tekanan. Di Pasar Citra Niaga, banyak penjual mengeluhkan kesulitan memenuhi pesanan pelanggan karena stok yang terbatas. Sejumlah konsumen juga terpaksa membatasi penggunaan cabai rawit, beralih ke bahan pengganti yang lebih murah. “Saya harus menunda belanja cabai rawit karena harganya terlalu tinggi,” kata seorang ibu rumah tangga, menjelaskan tantangan dalam kebutuhan sehari-hari.

Kenaikan harga cabai rawit tidak hanya memengaruhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi. Para pedagang sayur mengakui bahwa profit mereka turun signifikan karena harga jual terus meningkat, sementara pengusaha kecil mengalami kesulitan memperoleh pasokan. “Banyak pelanggan meminta penurunan harga, tapi kami tidak bisa mengubah harga pokok,” ujar seorang pedagang lain, menyampaikan frustrasi atas situasi yang terus berlanjut.

Upaya Stabilisasi Harga

Pedagang dan emak-emak di Jombang menyuarakan harapan untuk intervensi pemerintah daerah. Mereka meminta operasi pasar yang rutin diadakan pihak berwenang untuk menstabilkan harga komoditas pangan ini. Dalam operasi pasar, harga cabai rawit diharapkan bisa dikembalikan ke level normal, sehingga masyarakat tidak terbebani belanja. “Jika pemerintah tidak segera turun tangan, kondisi ini bisa berlanjut hingga berbulan-bulan,” kata seorang warga, yang memperkirakan dampak kenaikan harga terhadap kehidupan sehari-hari.

Menurut para pedagang, upaya stabilisasi harga sebaiknya melibatkan koordinasi antara distributor, petani, dan pemerintah. Dengan mendistribusikan cabai secara lebih efisien, harga bisa terkontrol. Selain itu, bantuan pemerintah dalam bentuk subsidi atau pembelian langsung dari petani juga diharapkan dapat mengurangi tekanan pasar. “Kalau ada subsidi untuk harga jual, mungkin kenaikan ini bisa berkurang,” tambah Mujiati, menegaskan pentingnya kebijakan pemerintah yang tepat waktu.

Kondisi pasar cabai di Jombang menjadi contoh bagaimana kenaikan harga bisa terjadi secara cepat akibat faktor alam dan permintaan pasar. Meski faktor cuaca ekstrem dianggap sebagai penyebab utama, masyarakat tetap mengharapkan solusi jangka pendek untuk mengatasi krisis harga. Dalam waktu dekat, pemerintah daerah akan melakukan evaluasi terhadap pasar tradisional, termasuk Pasar Citra Niaga, untuk mengetahui langkah-langkah yang bisa diambil guna memperbaiki kondisi ini. Hingga saat ini, harga cabai rawit masih menjadi sorotan utama, baik untuk para pedagang maupun konsumen yang terus berusaha menyesuaikan anggaran belanja dengan kenaikan biaya.

Editor: Kastolani Marzuki