eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Niat Puasa Idul Adha 2 Hari Tarwiyah dan Arafah: Arab & Artinya, serta Keutamaan

Published Mei 25, 2026 · Updated Mei 25, 2026 · By Thomas Garcia

Puasa Idul Adha: Niat dan Keutamaan Puasa Tarwiyah serta Arafah

Topics Covered - Di Jakarta, informasi tentang niat puasa Idul Adha selama dua hari, Tarwiyah dan Arafah, tahun 2026 sedang menjadi topik yang diminati oleh masyarakat Muslim. Kedua puasa ini merupakan bagian dari rangkaian ibadah yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah, dengan Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 dan Arafah pada tanggal 9. Puasa Tarwiyah merupakan amalan sunnah yang dilakukan oleh umat Islam sebagai bentuk penghormatan kepada peristiwa sejarah, sementara puasa Arafah adalah bentuk kebaikan tambahan yang dilakukan sebagai perayaan untuk merayakan hari raya kurban. Meski demikian, bagi jemaah haji, puasa Arafah 9 Dzulhijjah memiliki hukum yang berbeda; mereka wajib berpuasa pada hari tersebut.

Asal Usul Nama Puasa Tarwiyah dan Arafah

Nama “Tarwiyah” berasal dari kata “tarawwa” yang berarti membawa bekal air. Hal ini berkaitan dengan tradisi para jamaah haji yang membawa air zam-zam ke berbagai tempat, seperti Mina, sebagai persiapan untuk ritual wukuf di Arafah. Selain itu, kata “Arafah” berasal dari kata “arafat” yang berarti mengetahui atau mengerti. Menurut riwayat dari Ata, seorang sahabat, sejarah nama tersebut terkait dengan kisah Nabi Ibrahim as. Saat malaikat Jibril menunjukkan tempat manasik kepada Nabi Ibrahim, beliau berkata, “Aku telah mengenal ini,” yang dalam bahasa Arab disebut “Araftu.”

“Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah, seperti puasa dua tahun.”

Menurut Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir dalam bukunya yang berjudul “Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?” yang dimuat di Rumah Fiqih Indonesia, terdapat hubungan antara puasa Arafah dan wukuf Arafah. Wukuf di Arafah adalah puncak ritual haji yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, sedangkan puasa Arafah adalah ibadah sunnah yang dijalankan oleh orang yang tidak sedang menunaikan ibadah haji pada hari yang sama. Dua amalan ini memiliki waktu yang sama, tetapi tidak saling tergantung. Puasa Tarwiyah tetap sah meski jamaah haji tidak wukuf, dan wukuf tetap valid meskipun puasa tidak dilakukan.

Bacaan Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

Untuk memulai puasa Tarwiyah, umat Muslim mengucapkan niat dalam bahasa Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

Artinya: Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta'ala.

Sementara itu, niat puasa Arafah adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

Artinya: Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta'ala.

Kedua bacaan ini memiliki kesamaan dalam tujuan, yaitu sebagai bentuk keimananan dan kecintaan kepada Allah. Puasa Tarwiyah dan Arafah memiliki nilai keutamaan yang luar biasa, bahkan terdapat hadits yang menyebutkan bahwa puasa Arafah mampu menghapus dosa selama dua tahun.

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dan Abdullah bin Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Puasa di hari Tarwiyah akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa Arafah akan mengampuni dosa dua tahun.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjelaskan bahwa kedua puasa memiliki manfaat yang berbeda, tetapi sama-sama mendatangkan berkah besar.

Seorang sahabat, Abu Qatadah Radhiyallahuanhu, juga mengungkapkan dalam hadis yang diriwayatkan: “Puasa hari Arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa puasa Arafah memiliki kemampuan untuk menghapus dosa yang lebih luas dibandingkan puasa Tarwiyah. Meski demikian, kedua puasa ini memiliki peran penting dalam bulan Dzulhijjah, terutama dalam rangkaian kegiatan ibadah haji.

Kapan Puasa Tarwiyah dan Arafah Dilaksanakan?

Menurut kalender Hijriah yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, puasa Tarwiyah di tahun 2026 jatuh pada hari Senin, 25 Mei, sedangkan puasa Arafah dilakukan pada hari Selasa, 26 Mei. Hari Idul Adha akan datang pada Rabu, 27 Mei. Dengan demikian, puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi bagian dari rangkaian ibadah sebelum hari raya kurban.

Kedua puasa ini juga memiliki arti spesifik. Puasa Tarwiyah melambangkan persiapan sebelum melakukan wukuf di Arafah, sedangkan puasa Arafah adalah penutup dari rangkaian puasa dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam konteks ibadah haji, puasa Arafah dilakukan oleh jemaah yang tidak sedang berada di Mekkah, sementara jemaah haji yang sedang melakukan wukuf tidak diperbolehkan berpuasa.

Keutamaan kedua puasa ini juga dijelaskan dalam hadis yang menyebutkan bahwa puasa Arafah bisa dikatakan sebagai bentuk pengganti puasa selama dua tahun. Sementara puasa Tarwiyah memberikan manfaat untuk menghapus dosa setahun yang lalu. Dengan demikian, umat Muslim diimbau untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui puasa maupun ritual ibadah lainnya.

Dalam penjelasannya, Ustaz Mahadhir menyatakan bahwa puasa Arafah dan wukuf Arafah memiliki waktu yang sama, tetapi kegiatan tersebut tidak saling berkaitan. Sebagai contoh, puasa Arafah tetap sah meskipun seseorang tidak melakukan wukuf, dan wukuf tetap valid meskipun puasa tidak dilakukan. Oleh karena itu, kedua amalan ini bisa dijalankan secara terpisah, tergantung pada kondisi dan keinginan masing-masing umat Muslim.

Sebagai tambahan, puasa Tarwiyah dan Arafah juga menjadi penanda penting dalam perayaan Idul Adha. Kedua hari ini dianggap sebagai momen istimewa yang memperkuat semangat ibadah dan keimanan. Bagi yang mampu, mereka diimbau untuk menjalankan kedua puasa ini sebagai bentuk penghormatan kepada peristiwa sejarah yang tercatat dalam Al-Qur’an dan hadis.

Editor: Kastolani Marzuki