Meeting Results: Demo Jalan Rusak Tak Ditangani, Warga Blora Tanam Pohon Pisang di Jalur Provinsi
Demo Jalan Rusak Tak Ditangani, Warga Blora Tanam Pohon Pisang di Jalur Provinsi
Meeting Results - Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah warga Kecamatan Randublatung memblokade jalur provinsi Randublatung-Cepu sebagai bentuk protes atas ketidakpuasan terhadap upaya perbaikan jalan yang dinilai belum memadai. Aksi ini bukan pertama kalinya dilakukan, dengan tujuan mengingatkan pemerintah daerah untuk segera mengatasi masalah infrastruktur yang sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Dalam pernyataannya, Exi Agus Wijaya, seorang tokoh masyarakat setempat, menekankan bahwa tindakan warga tersebut adalah respons terhadap kebijakan pembangunan yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat kecil.
Protes ini memicu kerusuhan lalu lintas di jalur utama yang menjadi akses penting bagi warga sekitar. Penanaman pohon pisang di sepanjang jalan provinsi yang terjadi beberapa hari lalu menyebabkan terjadinya kemacetan parah, hambatan lalu lintas dari kedua arah menjadi tidak terhindarkan. Banyak kendaraan terjebak selama berjam-jam, sementara pohon pisang yang ditanam secara massal tampaknya menjadi penutup alami yang memperparah situasi. Aksi ini juga menunjukkan keinginan warga untuk menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam sambil menunggu solusi yang dianggap terlalu lambat.
Kritik terhadap Anggaran Infrastruktur
Exi Agus Wijaya, yang juga berperan sebagai perwakilan masyarakat dalam aksi tersebut, menjelaskan bahwa kerusakan jalan di jalur Randublatung-Cepu bukanlah masalah baru. Sejak lama, warga setempat merasa tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah provinsi. Menurutnya, anggaran yang dialokasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPUPR) Jawa Tengah sebesar Rp5,2 miliar dinilai sangat minim untuk menangani kondisi jalan yang kritis. "Dana tersebut hanya bisa digunakan untuk membangun jalan sepanjang 500 meter, padahal panjang jalan yang rusak mencapai 2,6 kilometer," ujar Exi dalam orasinya di lokasi aksi, Kamis (4/6/2026). Ia menekankan bahwa perbaikan jalan harus selesai sepenuhnya, bukan hanya sebagian atau dicicil.
"Anggaran sebesar Rp5,2 miliar itu kenyataannya hanya cukup untuk membangun jalan sepanjang 500 meter, sementara kerusakan di jalur ini jauh lebih luas. Kami menuntut perbaikan yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar langkah sementara," kata Exi Agus Wijaya.
Kritik terhadap alokasi dana ini juga mencerminkan ketidakpuasan warga terhadap sistem pengelolaan infrastruktur di Jawa Tengah. Exi menyebut bahwa masalah jalan rusak tidak hanya terjadi di Blora, melainkan menjadi tantangan klasik yang sering dihadapi oleh berbagai wilayah di provinsi tersebut. "Ini bukan kejadian spesifik, tapi masalah yang mengulangi diri dari tahun ke tahun. Kami meminta agar Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Lutfi, langsung mengambil tindakan tegas untuk menuntaskan permasalahan ini," tegasnya.
Di sisi lain, Riski, seorang perwakilan warga Randublatung, membentangkan spanduk bertuliskan "Harus Tuntas Jangan Omon-Omon" sebagai simbol kesabaran yang berbatas. Pesan di spanduk tersebut menunjukkan kekecewaan masyarakat karena pihak pemerintah dinilai masih terlalu lambat dalam menangani masalah infrastruktur yang menjadi prioritas. "Kami sudah memberikan banyak kesempatan, tapi hingga saat ini tidak ada tindakan nyata yang dilakukan," kata Riski. Ia menambahkan bahwa aksi ini juga menjadi bentuk penagihan janji politik yang pernah disampaikan Gubernur Jawa Tengah saat melakukan kampanye di wilayah Blora.
Protes warga ini semakin memicu perhatian publik, terutama karena menggambarkan kondisi jalan yang sudah memprihatinkan. Berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh-tokoh lokal dan warga yang terdampak langsung, meminta pemerintah provinsi untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Mereka mengkhawatirkan bahwa jika tidak ada keputusan yang segera diambil, aksesibilitas jalur utama akan terus berkurang, mengganggu aktivitas sehari-hari dan ekonomi daerah.
Threat Jika Tuntutan Diabaikan
Sebagai bentuk protes lanjutan, warga menegaskan bahwa mereka siap mengambil langkah lebih keras jika pihak pemerintah tidak memenuhi harapan mereka. Salah satu ancaman yang disampaikan adalah rencana mengirimkan satu mobil pikap berisi pohon dan buah pisang langsung ke Kantor Gubernuran di Semarang. "Kami sudah menanam pohon pisang di jalan, tapi jika Gubernur tidak segera memperbaiki, kami akan membawa bahan-bahan tersebut ke Semarang sebagai bentuk tekanan," jelas Riski. Aksi ini juga dianggap sebagai simbol ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan yang dianggap tidak responsif.
Dalam aksinya, warga berharap Gubernur Jawa Tengah mampu memberikan solusi yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar respons yang tampaknya diatur untuk menenangkan masyarakat. Exi Agus Wijaya menekankan bahwa jalan yang rusak parah akan terus menjadi masalah hingga pihak pemerintah menyelesaikan permasalahan secara tuntas. "Jalan ini tidak hanya mengganggu mobilitas, tapi juga menunjukkan ketidakpedulian terhadap kebutuhan rakyat bawah," imbuhnya. Ia menambahkan bahwa aksi blokade jalan ini adalah bagian dari upaya masyarakat untuk memperkuat suara mereka dalam menghadapkan masalah infrastruktur yang sering diabaikan.
Kondisi jalan yang rusak ini juga meny