eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Inspiratif! Perjuangan Amirul Ramli Marbot Masjid Kini Jadi Lulusan Doktor UMY

Published Juni 2, 2026 · Updated Juni 2, 2026 · By James Jones

Inspiratif! Perjuangan Amirul Ramli Marbot Masjid Kini Jadi Lulusan Doktor UMY

Latest Program - Kisah inspiratif kini dihadirkan oleh M. Amirul Ramli, seorang lulusan doktor yang sebelumnya menjalani hidup sederhana sebagai marbot masjid. Usai meraih gelar doktor dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pria yang berusia 35 tahun ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghalangi ambisi akademiknya. Sejak 2015, ia telah menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMY, sekaligus mengisi kebutuhan sehari-hari dengan pekerjaan paruh waktu. Saat ini, dengan gelar Dr. M. Amirul Ramli, SPd, MPd, ia menyelesaikan perjalanan panjang yang berawal dari marbot hingga menjadi pakar psikologi pendidikan. Cerita ini menggambarkan bagaimana kegigihan, ketekunan, dan semangat belajar bisa mengubah kondisi hidup sederhana menjadi prestasi yang menginspirasi.

Menjadi Marbot sebagai Langkah Pertama

Amirul memulai perjalanan pendidikannya dengan mengambil peran sebagai marbot di Masjid Khusnul Khotimah, Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY. Kehidupannya yang terbatas pada saat itu membuatnya harus bekerja ekstra demi membiayai studi. Dari awal, uang yang dikirimkan orang tua hanya berkisar antara Rp100.000 hingga Rp300.000 per bulan, yang jauh dari cukup untuk menutupi biaya kuliah dan kebutuhan pribadi. Untuk mengatasi masalah tersebut, ia memutuskan mengambil pekerjaan tambahan, seperti berjualan keliling, di berbagai tempat keramaian. Aktivitas ini membutuhkan usaha ekstra, termasuk berjalan kaki dari kawasan kampus ke Malioboro untuk menawarkan dagangannya kepada pengunjung. "Semua proses itu justru membuat saya menjadi lebih kuat dan sabar," tutur Amirul, Sabtu (30/5/2026). "Dari sana saya menemukan makna yang mendalam bahwa ilmu pengetahuan benar-benar dapat mengangkat derajat kehidupan seseorang."

Pengorbanan untuk Meraih Pendidikan Tinggi

Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan besar dalam perjalanan Amirul. Meski demikian, ia tidak menyerah. Tahun 2015, saat mendaftar sebagai mahasiswa PAI UMY, ia memilih mengabdi sebagai marbot sebagai cara memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasilnya, pekerjaan tersebut tidak cukup menutupi biaya hidup, sehingga ia terus berusaha mencari sumber penghasilan tambahan. Dari situ, ia menyadari bahwa kesuksesan akademik tidak hanya bergantung pada keberhasilan di kelas, tetapi juga pada kemampuan mengatur waktu dan energi. "Saya tidak hanya belajar, tetapi juga berusaha menghidupi keluarga. Ini mengajarkan saya untuk tidak menunda-nunda dan selalu berpikir kreatif," jelasnya.

Beasiswa Sebagai Penyemangat

Selama studi sarjana, Amirul aktif mencari berbagai peluang beasiswa untuk menyelesaikan pendidikan dengan lebih cepat. Berkat pengorbanan dan usaha yang konsisten, ia berhasil memperoleh Beasiswa Kader Muhammadiyah. Proses penerimaan beasiswa ini cukup panjang, mulai dari seleksi tingkat ranting hingga rekomendasi oleh pimpinan pusat. Menariknya, surat rekomendasi yang ia gunakan bahkan ditandatangani langsung oleh Haedar Nashir, tokoh Muhammadiyah yang berpengaruh. Dengan beasiswa tersebut, ia mampu menyelesaikan S1 hanya dalam 3,5 tahun, menjauh dari masa studi normal yang memakan waktu lebih lama.

Menelusuri Isu Kesehatan Mental

Setelah lulus sarjana, Amirul tidak berhenti di jenjang itu. Semangat belajar yang tinggi mendorongnya melanjutkan studi magister di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, melalui Beasiswa Unggulan yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan. Perjalanan akademiknya berlanjut pada 2023 ketika ia kembali ke UMY untuk menempuh pendidikan doktor. Dalam proses ini, ia menemukan minat terhadap isu kesehatan mental, khususnya perilaku self-harm pada generasi muda. Penelitiannya, yang dianggap sebagai hasil dari pengalaman hidupnya, fokus pada bagaimana individu yang pernah mengalami self-harm dapat membangun kembali makna hidup dan menemukan jalan pemulihan dari tekanan psikologis.

Kepuasan dari Hasil Kerja Keras

Gelar doktor yang diraih Amirul tidak sekadar menjadi pencapaian akademik. Baginya, ini adalah amanah untuk berkontribusi pada masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian. "Saya percaya, gelar ini adalah bentuk pengakuan atas usaha yang tidak pernah berhenti," katanya. Dalam perjalanan akhirnya, ia menekankan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang perubahan mental dan kualitas hidup. Saat ini, ia berharap mampu membagikan pengalaman pribadinya kepada generasi muda, agar mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Pesan untuk Generasi Muda

Dalam wawancara dengan media, Amirul memberikan pesan penting bagi generasi muda. "Percayalah, apa yang sedang kamu usahakan akan membuahkan hasil," ujarnya. "Mungkin Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bermanfaat bagi orang lain." Menurutnya, belajar tidak hanya tentang meraih keberhasilan pribadi, tetapi juga tentang memberikan dampak luas bagi masyarakat. "Jangan hanya berpikir untuk menjadi hebat bagi diri sendiri, tetapi jadilah pribadi yang mampu memberikan kontribusi nyata kepada banyak orang," pungkas Amirul. Dengan cerita hidupnya, ia ingin menjadi contoh bahwa setiap orang, terlepas dari latar belakangnya, mampu mencapai mimpi asalkan tidak berhenti berjuang.

Kesuksesan yang Membuktikan