Polda Kalsel Tangkap 211 Tersangka dalam 6 Bulan – Kasus Begal Dominan

196b56cd-dce5-4d74-8b52-290a8783c7dc-0

Polda Kalsel Tangkap 211 Tersangka dalam 6 Bulan, Kasus Begal Dominan

Polda Kalsel Tangkap 211 Tersangka dalam 6 – Sepanjang enam bulan terakhir, yaitu dari Januari hingga Juni 2026, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalimantan Selatan berhasil menyelidiki dan menangkap 211 orang tersangka dalam berbagai kasus kejahatan. Jumlah ini diungkapkan oleh Kombes Pol Frido Situmorang, Kepala Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel, dalam sebuah wawancara yang dilakukan pada Rabu (1/7/2026). Menurut Frido, polisi telah memproses seluruh tersangka tersebut melalui prosedur penahanan dan penyidikan yang ketat. Ia menegaskan bahwa tindakan penindakan terhadap kejahatan yang mengganggu masyarakat menjadi prioritas utama dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Dari total 211 tersangka yang ditangkap, sebanyak 204 di antaranya adalah laki-laki, sementara 7 orang lainnya merupakan perempuan. Terdapat pula tiga pelaku yang masih di bawah umur, yang ditemukan dalam penyelidikan di wilayah Polresta Banjarmasin dan Polres Banjar. Frido menjelaskan bahwa penanganan kasus ini dilakukan secara sistematis, dengan memperhatikan aspek-aspek keamanan dan keadilan. “Kami tidak hanya fokus pada jumlah tersangka yang ditangkap, tetapi juga pada kualitas investigasi yang dilakukan untuk memastikan setiap pelaku kejahatan dikenai hukuman sesuai dengan perbuatan mereka,” kata Frido dalam wawancara tersebut.

“Sejak Januari sampai dengan Juni 2026, Polda Kalsel sudah berhasil menangkap, menahan, dan memproses 211 tersangka. Kami juga berkomitmen untuk terus melakukan penindakan terhadap kasus-kasus kejahatan, terutama yang meresahkan masyarakat,” ujar Frido dikutip Rabu (1/7/2026).

Dalam rentang waktu tersebut, kasus kejahatan yang paling dominan adalah tindak pidana begal. Polisi mengungkap bahwa kejadian begal sering kali terjadi di jalur-jalur lalu lintas utama dan area perbelanjaan, terutama di malam hari. Frido menambahkan bahwa tindak kejahatan jenis ini berpotensi mengancam kemanan masyarakat, karena melibatkan kekerasan dan sering kali terjadi secara tiba-tiba. Selain begal, kasus pencurian, pembunuhan, dan aksi premanisme juga tercatat sebagai pelanggaran hukum yang signifikan. Kejadian premanisme, khususnya, sering kali berdampak pada ketidaknyamanan warga di berbagai daerah di Kalsel.

Hasil penyelidikan kasus-kasus tersebut menghasilkan sejumlah barang bukti penting. Di antaranya adalah senjata tajam, kendaraan bermotor roda dua yang digunakan untuk melancarkan aksi, uang tunai, serta dokumen kendaraan seperti STNK. Frido menjelaskan bahwa barang bukti ini membantu dalam memperkuat kasus dan menemukan keterkaitan antara pelaku. “Kemampuan kami untuk mengungkap kasus bergantung pada kejelasan bukti yang terkumpul, termasuk identifikasi barang-barang yang digunakan sebagai alat kejahatan,” katanya.

Menurut Kabid Humas Polda Kalsel, Kombes Pol Adam Erwindi, keberhasilan penegakan hukum ini tidak terlepas dari kerja sama masyarakat. Ia mengimbau warga untuk tetap waspada dan tidak ragu melaporkan setiap tindakan kejahatan yang terjadi di sekitar lingkungan mereka. Adam menekankan bahwa layanan call center 110 bisa diakses tanpa pulsa, sehingga memudahkan masyarakat dalam mengirimkan laporan. “Tanpa bantuan dan informasi dari masyarakat, kami mengalami kesulitan. Jadi kami sangat butuh laporan segera untuk mengungkap kasus-kasus tersebut,” ujar Kombes Adam.

“Kerahasiaan identitas pelapor juga kami jamin, serta setiap laporan akan segera ditindaklanjuti oleh tim investigasi. Kami ingin menciptakan lingkungan yang nyaman bagi warga, di mana setiap pelanggaran hukum dapat terdeteksi dan diatasi secara cepat,” imbuh Adam.

Adam menambahkan bahwa peningkatan jumlah laporan kejahatan dalam enam bulan terakhir menunjukkan kesadaran masyarakat yang lebih tinggi terhadap keamanan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tingkat kejahatan masih mengalami fluktuasi, terutama di wilayah yang lebih rawan. Polisi berupaya untuk mengintensifkan patroli dan pengawasan di area-area berpotensi tinggi, seperti kawasan perumahan, sekolah, serta tempat hiburan malam. “Kami terus memperkuat kapasitas penyidik dan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses pengungkapan,” kata Adam.

Kombes Pol Frido Situmorang menjelaskan bahwa keberhasilan menangkap 211 tersangka dalam periode tersebut mencerminkan efisiensi tim penyidik. Ia juga menyoroti bahwa penyelidikan kasus begal tidak hanya fokus pada pelaku utama, tetapi juga mencakup rekan-rekan yang terlibat dalam perencanaan aksi. “Beberapa kasus begal melibatkan rancangan yang matang, termasuk pengaturan waktu dan tempat untuk memaksimalkan kesempatan menyerang korban,” katanya. Frido menegaskan bahwa polisi sedang memperketat penindakan terhadap pelaku yang berulang kali melakukan kejahatan.

Menurut data yang dihimpun, kasus begal telah menjadi ancaman utama bagi keamanan di Kalsel. Angka kejadian tersebut meningkat seiring dengan berbagai faktor, seperti keluarnya korban dari lingkungan sekitar yang sebelumnya dianggap aman. Frido menyebutkan bahwa peningkatan jumlah korban yang terkena begal mengharuskan polisi meningkatkan kegiatan penyelidikan secara lebih intens. “Kami sedang menganalisis pola kejahatan begal untuk mengidentifikasi titik rawan dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat,” jelas Frido.

Polda Kalsel menegaskan bahwa penegakan hukum akan terus ditingkatkan dalam upaya menciptakan situasi kamtibmas yang lebih stabil. Selain menangkap pelaku, pihak kepolisian juga berencana untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang cara mencegah kejahatan begal, terutama bagi para korban potensial. “Peningkatan kesadaran akan memberikan dampak positif dalam mengurangi jumlah kejadian kejahatan,” kata Frido. Ia menekankan bahwa keberhasilan penyelidikan ini adalah bukti komitmen polisi terhadap peningkatan kualitas layanan keamanan.

Dalam rangka mencegah terjadinya aksi serupa, Polda Kalsel juga berupaya untuk melibatkan masyarakat dalam program penegakan hukum. Salah satu langkah yang diambil adalah memperluas jaringan informasi melalui media sosial dan komunikasi langsung dengan warga. Adam Erwindi menambahkan bahwa keberhasilan memproses 153 laporan polisi dalam periode tersebut berkat koordinasi yang baik antara tim investigasi, lapangan, dan pusat. “Kami terus meningkatkan kinerja tim dan memastikan setiap laporan kejahatan dapat ditindaklanjuti secara optimal,” ujarnya.

Kombes Pol Frido Situmorang juga menyampaikan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan instansi terkait, seperti pemerintah daerah dan lembaga pendidikan. Ia menegaskan bahwa program penegakan hukum akan terus diperluas, termasuk peningkatan pemeriksaan terhadap individu yang memiliki riwayat kejahatan. “Kami sedang merancang sistem pelacakan pelaku kejahatan agar tidak mengulangi tindakan serupa,” katanya. Polisi juga berharap masyarakat dapat terlibat aktif dalam mencegah kejahatan dengan memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu.

Polda Kalsel menegaskan bahwa komitmen penegakan hukum akan terus berlanjut, baik melalui penangkapan pelaku, pemrosesan kasus, maup