Latest Update: Solar Langka di Surabaya, Sopir Truk Rela Antre Berjam-Jam di SPBU

9a929ede-bec8-4384-a2c1-dbcb12aa5c24-0

Latest Update: Solar Langka di Surabaya, Sopir Truk Rela Antre Berjam-Jam di SPBU

Latest Update – Kekurangan bahan bakar minyak (BBM) subsidi solar terus terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, dan sekitarnya. Situasi ini memicu antrian panjang kendaraan berat serta truk pengangkut barang hingga hampir satu kilometer di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Kamis (25/6/2026). Kelangkaan solar mengganggu proses logistik, karena bahan bakar ini menjadi penggerak utama untuk alat transportasi besar. Para sopir mengeluhkan kesulitan memperoleh stok solar yang terbatas, sementara pasokan baru dari Pertamina masih dalam perjalanan. Latest Update menunjukkan bahwa krisis ini memperparah ketidakstabilan distribusi barang di wilayah tersebut.

Kondisi BBM di SPBU Surabaya

Salah satu SPBU yang mengalami kelangkaan adalah di Jalan Mastrip, Karang Pilang, Surabaya. Di lokasi tersebut, truk-truk pengangkut barang terpaksa berbaris rapi di tepi jalan untuk menunggu giliran mengisi bahan bakar. Meski stok solar tersedia, jumlahnya sangat terbatas dan harus dibagi adil antar pengemudi. Kondisi ini juga terjadi di SPBU perbatasan seperti Sidoarjo, yang menjadi jalur utama distribusi logistik. Latest Update menyebutkan bahwa papan pengumuman “BBM Dalam Proses Pengiriman” sudah terpasang sejak Rabu malam, mengingatkan para pengemudi untuk bersabar.

“Stok solar di beberapa SPBU di wilayah Surabaya maupun Sidoarjo banyak yang kosong. Makanya begitu tahu di sini ada, kami rela mengantre berjam-jam meskipun panjang,” kata Karno, sopir mobil boks.

Kesulitan Sopir dalam Pengiriman

Kelangkaan solar membuat para sopir truk mengalami hambatan serius dalam operasional. Aris, sopir truk antarkota, mengungkapkan bahwa ia terpaksa menepikan kendaraannya di antrean yang memanjang sejak pagi hari. “Saya sudah berada di SPBU sejak pagi hari, tapi baru bisa mengisi sekitar pukul 11 pagi,” keluhnya. Latest Update menunjukkan bahwa keterlambatan pengisian bisa menyebabkan penundaan pengiriman, yang berdampak pada beberapa industri. Beberapa perusahaan logistik memperkirakan penurunan produksi sekitar 10% akibat kendaraan berat tidak bisa beroperasi karena bahan bakar langka.

“Saya sudah berada di SPBU sejak pagi hari, tapi baru bisa mengisi sekitar pukul 11 pagi,” kata Aris.

Para sopir mengatakan bahwa antrian yang panjang membuat mereka harus mengorbankan waktu dan tenaga. “Kami rela mengantre berjam-jam meskipun terpaksa berhenti di jalan tol,” ujar seorang sopir. Latest Update menekankan bahwa keadaan ini semakin kritis karena pasokan solar dari Pertamina belum tiba, sementara permintaan tetap tinggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran tentang kelangsungan operasional logistik di tengah musim penggunaan BBM yang tinggi.

Penjelasan dari Pertamina

Menurut informasi yang dihimpun, Pertamina sedang berupaya mempercepat pengiriman solar ke SPBU di Surabaya dan sekitarnya. Latest Update menyebutkan bahwa gangguan di jalur distribusi menjadi penyebab utama kelangkaan. Kendaraan pengiriman mengalami masalah teknis, sehingga proses distribusi tertunda. Meski begitu, perusahaan berjanji akan menyelesaikan masalah dalam beberapa hari ke depan. “Kami sedang berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat pengiriman,” kata juru bicara Pertamina.

Para sopir berharap Pertamina bisa memperbaiki sistem distribusi sehingga kelangkaan solar tidak terulang. Latest Update menambahkan bahwa ada sekitar 15 SPBU yang mengalami kelangkaan, banyak di antaranya berada di jalur strategis. Dampak dari stok solar yang terbatas bisa menyebar ke berbagai sektor ekonomi, terutama di pasar yang membutuhkan pengiriman cepat.

Kebutuhan Solar dalam Operasional Logistik

Kelangkaan solar tidak hanya memengaruhi kemudahan pengisian bahan bakar, tetapi juga memperparah tekanan pada rantai pasok. Latest Update mengatakan bahwa krisis ini memicu gangguan di berbagai sektor. Para pengemudi truk mengungkapkan bahwa stok solar yang terbatas bisa menyebabkan risiko mogok di tengah jalan tol. “Kami harus mengantisipasi kehabisan bahan bakar sebelum tiba di tujuan,” tambah salah satu sopir. Dengan situasi seperti ini, keterlambatan distribusi barang menjadi ancaman serius bagi kegiatan ekonomi kota.

“Jika solar tidak tersedia, mobil-mobil boks dan truk tidak bisa beroperasi. Ini akan mengganggu kegiatan sehari-hari, terutama di pasar yang membutuhkan pengiriman cepat,” ujar sopir lain.