Kasus Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor – Polisi Periksa 28 Saksi

tim_gabungan_pencarian_korban_ledakan_di_biak

Kasus Ledakan Bom Sisa Perang II di Biak Numfor, Polisi Periksa 28 Saksi

Kasus Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor, Papua, menjadi sorotan karena menewaskan enam orang dan merusak sejumlah bangunan. Dalam upaya mengungkap penyebab kejadian tersebut, polisi telah mengumpulkan keterangan dari 28 saksi selama dua hari terakhir. Pemeriksaan intensif ini dilakukan oleh Tim Kepolisian yang berupaya memadukan bukti lapangan dengan informasi dari warga sekitar. Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menjelaskan bahwa investigasi masih berlangsung untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu ledakan tersebut.

Proses Pemeriksaan Saksi dan Bukti Forensik

Sebagai bagian dari penyelidikan, saksi-saksi diperiksa secara terpisah untuk memastikan konsistensi data. Kapolres Ari Trestiawan mengatakan bahwa tim sedang mencocokkan pengakuan warga dengan hasil analisis forensik yang dilakukan di laboratorium. “Ledakan ini memicu pertanyaan besar tentang bagaimana bom sisa Perang Dunia II bisa meledak tiba-tiba,” ujarnya. Selain itu, tim juga melibatkan pekerja di Kompleks Perikanan dan keluarga korban sebagai sumber informasi tambahan.

“Kasus Ledakan Bom Sisa Perang di Biak Numfor masih dalam proses investigasi, dan kami membutuhkan semua petunjuk yang mungkin terkait,” kata Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan. Ia menegaskan bahwa hasil pemeriksaan saksi dan bukti forensik akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab peristiwa ini.

Detik-detik Ledakan di Kompleks Perikanan

Ledakan terjadi pada hari Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 14.45 WIT di Kompleks Perikanan Jalan Walter Mongonsidi, Kampung Yenures. Lokasi ini sering dihuni oleh pekerja industri perikanan, sehingga kejadian tersebut mengejutkan warga sekitar. Ari Trestiawan menyebutkan bahwa ledakan mengakibatkan kerusakan signifikan, dengan enam korban meninggal dan belasan rumah rusak berat. “Kasus Ledakan Bom Sisa Perang ini memperlihatkan risiko yang tidak terduga dari benda-benda bersejarah,” jelasnya.

“Kami masih mencari tahu apakah ledakan terjadi secara spontan atau ada peran manusia,” ujar Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan. Ia menambahkan bahwa penyelidikan terus berjalan untuk mengumpulkan semua petunjuk yang relevan, termasuk dari hasil pemeriksaan lapangan dan laboratorium.

Kumpulan Sampel DNA untuk Identifikasi Korban

Untuk memperjelas identitas korban, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Papua mengirimkan 10 sampel DNA dari keluarga korban ke Pusdokkes Polri di Jakarta. Sampel ini digunakan untuk memverifikasi potongan tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian. “Dalam dua hari terakhir, tim berhasil mengambil empat sampel DNA postmortem,” kata Ari Trestiawan. Pencarian korban yang belum ditemukan terus dilakukan di Area Ring 1 dan Ring 2, dengan radius hingga empat kilometer dari lokasi ledakan.

Barang-barang yang ditemukan, seperti telepon genggam, dompet, dan alat-alat medis, menjadi bukti tambahan dalam kasus Ledakan Bom Sisa Perang. Kepala tim SAR mengatakan bahwa beberapa benda tersebut diperkirakan terkait dengan korban atau penyebab kejadian. “Barang-barang ini membantu memperjelas kronologi Ledakan Bom Sisa Perang,” jelasnya.

Upaya Mencari Tiga Korban yang Hilang

Pencarian terhadap tiga korban yang masih belum ditemukan diperluas ke area yang lebih luas. Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menegaskan bahwa peningkatan radius pencarian adalah langkah penting untuk memastikan semua korban teridentifikasi. “Kasus Ledakan Bom Sisa Perang ini menunjukkan kebutuhan untuk memperketat investigasi,” katanya. Meski cuaca dan topografi lokasi menjadi tantangan, tim SAR tetap tekun melakukan pencarian.

“Kami sedang mengoptimalkan strategi pencarian untuk mempercepat identifikasi korban,” ujar Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan. Ia menambahkan bahwa warga setempat juga terus memberikan informasi yang bisa membantu proses penyelidikan.

Kasus Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis bagi masyarakat sekitar. Warga mengungkapkan kekecewaan mereka karena bom sisa Perang Dunia II yang sudah lama ditinggalkan bisa meledak kapan saja. “Kami tidak menyangka bom itu bisa meledak di tengah aktivitas sehari-hari,” kata seorang warga yang enggan menyebutkan nama. Peristiwa ini menjadi ingatan kembali akan pentingnya upaya deteksi dini terhadap benda-benda berpotensi berbahaya di daerah pemukiman.