Visit Agenda: Waspada Hipnotis! Lansia di Madiun Kehilangan Perhiasaan dan Uang Jutaan usai Terima Tamu
Waspada Hipnotis! Lansia di Madiun Kehilangan Perhiasaan dan Uang Jutaan Usai Terima Tamu
Madiun, Jawa Timur
Visit Agenda – Di Madiun, Jawa Timur, seorang lansia berusia 60 tahun bernama Kadinem dari Desa Luworo, Kecamatan Pilangkenceng, menjadi korban tindakan hipnotis oleh dua perempuan tak dikenal. Kejadian ini terjadi pada Jumat (5/6/2026), saat korban menerima tamu tak terduga yang akhirnya memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri barang berharga dan uang tunai. Dari laporan Kepala Desa Luworo, Irfan Rifai, korban kehilangan kalung berbobot 18 gram, dua cincin, serta uang tunai senilai Rp2 juta. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp30 juta.
Kadinem, yang tinggal sendirian di rumahnya, menjadi sasaran hipnotis oleh dua pelaku yang mengendarai sepeda motor jenis Scopy. Menurut Irfan, kedatangan pelaku awalnya terlihat seperti kunjungan biasa. Tetangga korban mengamati pergerakan kedua perempuan tersebut, tetapi tak menyangka bahwa mereka menggunakan modus hipnotis untuk memperdaya warga setempat. “Mereka datang dengan cara yang tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Namun, setelah hipnotis, korban langsung kehilangan kesadaran dan tidak mampu mengingat apa yang terjadi,” jelas Irfan.
“Belum ada pengaduan yang masuk. Jika memang ada laporan, kami akan segera menindaklanjuti dan melakukan penyelidikan, termasuk berkoordinasi dengan Polres Madiun,” ujar Kapolsek Pilangkenceng AKP Samiran.
Kepolisian setempat belum menerima laporan resmi tentang kejadian ini. AKP Samiran menuturkan, tim investigasi akan fokus pada penelusuran identitas pelaku dan pengecekan keberadaan barang bukti. Sebagai informasi, metode hipnotis yang digunakan pelaku dilakukan secara perlahan, dengan menawarkan keuntungan atau keharmonisan untuk membangun kepercayaan korban. Proses ini biasanya memakan waktu beberapa menit hingga jam, tergantung tingkat kepercayaan yang dibangun.
Menurut Irfan Rifai, korban tidak memiliki sanak keluarga di sekitar rumahnya. Hal ini memudahkan pelaku untuk mengisolasi korban selama proses hipnotis. “Kadinem tinggal sendirian, sehingga tidak ada orang yang bisa mengingatkan atau menghentikan tindakan mereka,” tambah Irfan. Berdasarkan pengakuan tetangga, dua pelaku memasuki rumah korban dengan dalih mengunjungi keluarga. Mereka menunggu momen tepat untuk menggiring korban ke dalam keadaan tidak sadar.
Peristiwa ini memperlihatkan cara-cara jahat yang digunakan oleh pelaku untuk menipu lansia. Hipnotis sering kali menjadi alat utama dalam skema penipuan ini, di mana korban dianggap lebih rentan karena usia dan kebiasaan sosial. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi di daerah lain, tetapi Madiun dianggap sebagai daerah baru yang menjadi target. Irfan mengatakan, warga Desa Luworo sedang meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian serupa. “Kami mendorong warga untuk lebih memperhatikan tamu yang datang, terutama jika ada barang berharga yang dipindahkan atau diambil secara diam-diam,” terangnya.
Dalam penyelidikan awal, polisi memperkirakan pelaku menggunakan teknik hipnotis yang sederhana tetapi efektif. Mereka mungkin menawarkan sesuatu yang menarik atau menciptakan suasana tenang untuk membangun keterbukaan korban. Kadinem sendiri, setelah kejadian, masih dalam proses pemulihan ingatan. Ia belum bisa memberikan keterangan detail tentang ciri-ciri pelaku atau cara hipnotis dilakukan. “Kadinem sedang dalam kondisi bingung, dan tidak mengingat apa yang terjadi setelah dua perempuan itu masuk rumahnya,” tambah Irfan.
Polisi juga sedang memeriksa CCTV di sekitar rumah korban serta meminta keterangan dari warga lainnya. Selain itu, mereka berencana melakukan pelatihan deteksi tanda-tanda hipnotis kepada lansia di sekitar Desa Luworo. “Kami ingin mengedukasi warga agar lebih waspada terhadap taktik yang sering digunakan oleh pelaku penipuan,” kata AKP Samiran. Menurut dia, hipnotis bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk mengggunakan suara, gerakan, atau bahkan ekspresi wajah yang menenangkan.
Kasus ini menyoroti kebutuhan perlindungan terhadap lansia yang rentan terhadap manipulasi emosional. Meski metode hipnotis terdengar halus, hasilnya bisa sangat serius, terutama jika korban tidak memiliki pengawasan. “Lansia sering kali mudah terbawa perasaan, terutama jika mereka memiliki ketergantungan pada orang yang dikenal atau dianggap baik,” ujar Irfan. Ia juga menekankan pentingnya warga tetap memantau kondisi keluarga mereka, terutama saat ada tamu yang datang.
Kepolisian berharap warga segera melaporkan jika ada indikasi kejadian serupa. Mereka menegaskan bahwa setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan cepat, termasuk menggali sumber informasi dari tetangga dan memeriksa keberadaan pelaku. “Kami yakin akan menemukan pelaku, asalkan ada keterlibatan warga dalam memberikan petunjuk,” kata AKP Samiran. Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih hati-hati dalam menerima tamu, terutama jika ada barang berharga yang dipindahkan secara tiba-tiba.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, pihak desa juga sedang menyusun rencana sosialisasi tentang cara mengenali tanda-tanda hipnotis. “Kami ingin meningkatkan kesadaran warga tentang ancaman yang bisa terjadi di rumah mereka sendiri,” jelas Irfan. Ia menambahkan, lansia sering kali menjadi sasaran karena kurangnya kehati-hatian, serta kurangnya pengawasan di lingkungan mereka. Dengan ini, diharapkan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Kasus Kadinem menunjukkan bahwa hipnotis bukan lagi hal yang asing dalam kejahatan di daerah perkotaan. Polisi menyebutkan bahwa teknik ini bisa digunakan di berbagai lingkungan, termasuk kawasan pedesaan. “Hipnotis bisa terjadi kapan saja, tergantung kesabaran dan persiapan pelaku,” katanya. Dengan adanya pengakuan warga tentang kondisi korban, polisi optimis akan menemukan petunjuk penting untuk mengungkap siapa saja pelaku di balik kejadian ini.
