Historic Moment: Miliarder Ini Simpan 98 Persen Kekayaan di Emas dan Perak, Hartanya Tembus Rp58 Triliun

9427f164-c2cf-448b-893e-f7731d80259a-0

Miliarder Ini Tumpahkan 98 Persen Kekayaannya pada Logam Mulia, Nilainya Melampaui Rp58 Triliun

Historic Moment – Jakarta, seorang investor legendaris logam mulia, Eric Sprott, kembali membangkitkan minat publik global. Pria berusia 81 tahun itu dikenal membagi hampir seluruh asetnya—sekitar 98 persen—ke logam mulia, terutama emas dan perak. Menurut laporan Forbes, total kekayaan Sprott mencapai lebih dari 3,3 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp58,42 triliun berdasarkan kurs 17.710 rupiah per dolar AS. Perjalanan investasinya dalam bidang logam mulia telah berlangsung sejak dekade 1980-an, tetapi belakangan ini ia semakin gencar memperkuat posisinya dalam aset tersebut.

Investasi yang Melonjak Akibat Pasar Global

Dalam dua tahun terakhir, nilai portofolio investasinya mengalami peningkatan hampir empat kali lipat karena kenaikan harga logam mulia di pasar global. Sprott mengungkapkan bahwa baik saham emas maupun perak masih dianggap relatif murah, dan ia percaya harga keduanya akan terus melambung. “Perak bisa mencapai 200 dolar AS bahkan 300 dolar AS per ons. Emas mungkin menyentuh 10.000 dolar AS,” tulisnya dalam wawancara yang dikutip pada hari Sabtu (23/5/2026).

“Baik saham emas maupun perak masih sangat undervalued. Saya pikir harganya akan naik jauh lebih tinggi,” ujar Sprott.

Dalam wawancara itu, Sprott juga mengungkapkan bahwa volatilitas harga logam mulia adalah fenomena wajar, terutama di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global yang mendorong investor mencari tempat berlindung. “Saya rasa semua orang tahu pemerintah di berbagai negara terlalu tidak bertanggung jawab dalam sistem keuangan, mulai dari pencetakan uang hingga pengeluaran berlebihan,” tambahnya.

Strategi Investasi yang Berbeda dari Ahli Geologi

Sprott, meski bukan ahli geologi, justru memilih fokus pada analisis angka dan valuasi perusahaan. Ia menilai beberapa perusahaan tambang emas dan perak memiliki potensi keuntungan besar, sehingga siap mengambil risiko. “Saya tidak tahu soal batuan, tapi saya paham angka. Kalau potensi keuntungannya besar, saya siap mengambil risiko,” jelasnya.

Dalam kurun waktu tertentu, Sprott memiliki investasi di sekitar 120 perusahaan tambang, tetapi sebagian besar kekayaannya terpusat pada kurang dari 10 perusahaan utama. Di antara mereka, Hycroft Mining Holding Corp menjadi salah satu yang paling signifikan. Perusahaan tersebut, yang berlokasi di Nevada Utara, menjadi target investasinya sejak 2019, ketika usaha tambang emas dan perak di sana belum beroperasi dan terlilit utang besar. Sprott lalu menyuntikkan dana lebih dari 360 juta dolar AS untuk mendukung kemajuan perusahaan.

Hasilnya cukup mengesankan. Setelah dana masuk, saham Hycroft mengalami kenaikan lebih dari 1.400 persen sejak awal 2025. Di samping itu, Sprott juga menanamkan modal di Discovery Silver Corporation, perusahaan asal Ontario, Kanada. Ia mulai membeli saham perusahaan tersebut pada 2019, lalu terus meningkatkan kepemilikan hingga mencapai 25 persen. Kenaikan nilai investasinya terjadi setelah Discovery Silver mengakuisisi proyek tambang emas besar di Ontario pada Januari 2025.

Penelusuran Aset Baru: Mangan untuk Teknologi Kendaraan Listrik

Sprott tidak hanya memperluas portofolionya ke emas dan perak, tetapi juga mulai menaruh perhatian pada mangan. Logam ini dinilai berpotensi menjadi bahan utama dalam pengembangan baterai kendaraan listrik generasi baru. Motivasinya datang dari laporan Samsung pada akhir 2024, yang mengungkapkan penggunaan mangan dalam teknologi baterai yang semakin diminati.

Mangan, meski tidak populer seperti emas, memiliki peran penting di industri energi. Sprott, setelah mempelajari data tersebut, langsung membeli saham di sejumlah perusahaan tambang mangan. Langkah ini menunjukkan keberaniannya dalam mengikuti tren investasi yang belum banyak diunggulkan oleh banyak spekulan.

Keyakinan Terhadap Aset Aman di Tengah Kondisi Ekonomi Global

Sementara itu, Sprott tetap mempertahankan fokusnya pada logam mulia, bahkan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Iran. Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak menggoyahkan kepercayaannya pada aset aman. “Saya tidak tertarik mengejar saham teknologi populer seperti Nvidia, Microsoft, atau Apple,” tuturnya.

“Perak memiliki prospek yang sangat menjanjikan karena permintaan global terus meningkat, sementara pasokan tetap terbatas,” ujar Sprott.

Menurut data dari Silver Institute, pasar perak dunia telah mengalami defisit selama lima tahun terakhir. Faktor utamanya adalah permintaan yang selalu lebih tinggi dibandingkan produksi. Permintaan perak tidak hanya berasal dari investor, tetapi juga dari industri teknologi, seperti pembuatan baterai, elektronik, kendaraan listrik, dan panel surya. Sprott memperkirakan bahwa tren ini akan terus berlanjut, sehingga menariknya untuk memperluas portofolio.

Proyeksi Harga dan Perubahan Pandangan Ekonomi

Sprott memprediksi bahwa nilai perak akan terus melambung, dengan harga potensial mencapai 200 hingga 300 dolar AS per ons. Dia menilai kondisi pasar terus mengalami dinamika yang mendorongnya untuk menempatkan modal besar pada logam ini. “Saya percaya bahwa inflasi, krisis moneter, dan konflik global akan menjadi faktor yang membuat logam mulia semakin diminati,” ujarnya.

Secara umum, keputusannya untuk fokus pada logam