Latest Program: Garudayaksa juara, Widodo Cahyono Putro ungkap kuncinya

Garudayaksa Juara, Widodo Cahyono Putro Ungkap Kunci Kemenangan

Latest Program – Jakarta – Kemenangan Garudayaksa di Pegadaian Championship 2025/2026 menjadi momen bersejarah bagi klub yang telah mempersembahkan gelar pertamanya dalam kompetisi kasta kedua. Pelatih tim tersebut, Widodo Cahyono Putro, memberikan penjelasan tentang strategi dan persiapan yang menjadi faktor utama memungkinkan timnya meraih kemenangan akhir setelah bertanding melawan PSS Sleman dalam babak adu penalti. Hasil 4-3 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (15 Desember 2025), mengakhiri pertandingan yang berlangsung sengit sejak awal hingga menit-menit terakhir.

Persiapan Matang Jadi Jaminan Kemenangan

Dalam sesi jumpa pers setelah pertandingan, Widodo menyampaikan bahwa kunci kemenangan Garudayaksa terletak pada ke matangan persiapan tim sejak awal musim. Ia menekankan bahwa latihan tendangan penalti dilakukan secara rutin untuk memastikan pemain siap menghadapi situasi kritis. “Saya sudah memprediksi partai final ini akan sulit. Tidak hanya karena ketatnya pertandingan, tapi juga kemungkinan terjadi adu penalti. Maka, setiap latihan, saya selalu fokus pada penendangan dari titik 12 yard,” ujar pelatih berusia 55 tahun itu.

Menurut Widodo, keberhasilan timnya di babak adu penalti tidak terlepas dari kesiapan pemain sebelumnya. “Terbukti pemain merasa nyaman saat menendang. Mereka enjoy dan percaya diri. Ini berkat persiapan yang matang sejak lama,” tambahnya. Pada laga tersebut, Garudayaksa awalnya bermain imbang 2-2 dengan PSS Sleman setelah babak normal dan tambahan waktu usai. Namun, dalam adu penalti, pemain Garudayaksa yang menjadi penendang pertama, Everton, gagal menuntaskan tugasnya setelah tendangan melambung tinggi. Kegagalan itu tidak mengurangi semangat tim, karena empat eksekutor lainnya menunjukkan performa yang baik.

Kevin Gomes dan Gustavo Tocantins Gagal di Penalti

Di sisi lawan, dua pemain PSS Sleman, Kevin Gomes dan Gustavo Tocantins, juga mengalami kegagalan dalam eksekusi penalti. Kiper Garudayaksa, Yoewanto Beny, berhasil menghalau tendangan-tendangan mereka, memperkecil peluang lawan untuk memperoleh kemenangan. “Kiper kami sangat tangguh. Ia berhasil mengganggu dua penendang PSS, sehingga kami bisa tampil lebih baik di babak adu,” kata Widodo, menjelaskan situasi pertandingan.

Kemenangan Garudayaksa di babak adu penalti menjadi penutup dari pertandingan yang berlangsung memanas. Kedua tim saling menyerang dan berusaha memperoleh keunggulan sepanjang pertandingan. Namun, skor yang seimbang hingga menit ke-120 membuat laga harus dilanjutkan melalui babak ekstra. Dalam kondisi yang sangat ketat, tim Garudayaksa menunjukkan kepercayaan diri dan teknik yang sempurna saat menjalani penalti.

“Saya pribadi sudah memprediksi di partai final ini tidak mudah. Dan bahkan akan terjadi penalti. Makanya setiap latihan begitu saya datang, setiap selesai latihan saya penalti. Saya menendang penalti,”

Widodo menambahkan bahwa kemenangan ini adalah bukti dari kepercayaan diri pemain, yang terbentuk melalui latihan intensif. Ia juga menyatakan bahwa kesiapan tim tidak hanya terlihat dari teknik, tetapi juga dari mentalitas yang kuat. “Setiap detail latihan, dari tendangan bebas hingga situasi darurat, telah kita persiapkan secara matang. Ini menghasilkan performa yang lebih baik di saat-saat kritis,” tutur mantan pelatih Bali United dan Bhayangkara FC itu.

Widodo Ungkap Rasa Syukur dan Kepedulian terhadap PSS

Dalam kesempatan yang sama, Widodo Cahyono Putro menunjukkan rasa syukur terhadap PSS Sleman yang berjuang keras hingga akhir. “Tentunya sangat gembira bagi kami. Tapi ini kita juga sama untuk PSS juga, kita juara bersama. Saya kira itu karena yang terutama itu di dalam sepak bola itu bukan kalah menangnya tetapi kita menjadi saudara,” ujar pelatih berpengalaman tersebut.

Konsep persaudaraan dalam sepak bola menjadi tema utama yang dianggap Widodo sebagai bagian dari kemenangan ini. “Di mana kita membangun sepak bola, di situ ada persaudaraan. Supaya sepak bola kita tambah maju, saya rasa ini adalah langkah awal yang baik,” tambahnya. Ia menilai bahwa pertandingan melawan PSS Sleman adalah bagian dari proses pembinaan olahraga nasional yang lebih luas.

“Karena dimana kita membangun sepak bola disitu ada persaudaraan. Supaya sepak bola kita tambah maju. Tentunya ke depan mudah-mudahan Garudayaksa dan PSS juga bisa berkembang lebih baik,”

Kemenangan ini juga menjadi momen penting bagi Garudayaksa, yang sebelumnya sempat menghadapi tantangan dalam musim pertama mereka di kompetisi ini. Widodo menilai bahwa keberhasilan timnya tidak hanya karena kemampuan teknis, tetapi juga karena kerja sama yang solid antar pemain dan pengarahan yang konsisten. “Setiap pemain mengerti tugasnya, dan semua komponen tim saling mendukung. Ini membuat hasil akhir lebih baik,” papar pelatih yang pernah melatih Arema FC tersebut.

Persiapan Musim Depan Diserahkan ke Manajemen

Lebih lanjut, Widodo Cahyono Putro menyampaikan bahwa rencana untuk musim depan akan diambil alih oleh manajemen Garudayaksa. “Saya akan segera bicarakan jadwal persiapan musim depan dengan manajemen, termasuk berapa persen pemain yang akan dipertahankan di Super League nanti,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa keputusan mengenai skuad akan dibuat berdasarkan evaluasi dan aspirasi tim.

Kehadiran Widodo sebagai pelatih membuat tim Garudayaksa memiliki pengalaman yang memadai dalam menghadapi kompetisi tingkat nasional. Sebagai mantan pelatih beberapa klub besar, ia memiliki visi yang jelas tentang pembinaan dan pengembangan sepak bola. “Pondasi tim akan terus dibangun oleh manajemen. Sementara itu, saya akan fokus pada strategi dan sistem permainan untuk musim mendatang,” tuturnya.

Dengan mengantarkan Garudayaksa ke puncak kasta kedua, Widodo Cahyono Putro berharap timnya bisa melangkah lebih jauh di tingkat kompetisi yang lebih tinggi. “Saya yakin, dengan kepercayaan dari manajemen dan pemain, Garudayaksa akan terus berkembang dan menjadi salah satu klub yang kuat di Indonesia,” pungkas pelatih yang kini menitipkan masa depan klub kepada pihak manajemen.