Topics Covered: China respons Trump, tegaskan kedaulatan harus dihormati di Hormuz
China Respons Trump, Tegaskan Kedaulatan Harus Di Hormuz
Topics Covered – Dalam upaya menyelesaikan ketegangan di Selat Hormuz, Beijing mengambil peran aktif dengan menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan negara-negara terkait. Kementerian Luar Negeri Tiongkok, melalui juru bicara Lin Jian, menyatakan bahwa keadaan di wilayah tersebut masih terus memanas, dan hanya melalui gencatan senjata dini serta komitmen bersama, kondisi untuk deeskalasi bisa tercapai. “Kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial negara-negara pesisir harus dihormati,” tegas Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Rabu. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana sementara untuk menghentikan operasi “Proyek Freedom” yang bertujuan memandu kapal keluar dari wilayah strategis tersebut.
Trump Hentikan Operasi Militer Sementara
Presiden AS, Donald Trump, menulis di platform media sosial Truth Social pada Selasa (5/5) bahwa “Proyek Freedom” akan ditangguhkan sementara waktu. Menurutnya, keputusan ini diambil setelah adanya kemajuan besar menuju kesepakatan damai dengan Iran, serta permintaan dari Pakistan dan negara-negara lain untuk mempercepat dialog. “Meski blokade tetap berlaku, operasi militer akan dihentikan sementara agar kesepakatan bisa difinalisasi dan ditandatangani,” jelas Trump. Ini menunjukkan upaya Washington untuk mencari jalan penyelesaian yang lebih damai setelah konflik yang berlarut dengan Iran.
“Kekhawatiran yang wajar dari negara-negara regional harus ditanggapi dengan serius, dan kepentingan sah komunitas internasional harus dilindungi,” tambah Lin Jian. Ia menekankan bahwa China memandang posisi mereka terhadap situasi di Selat Hormuz sebagai jelas dan konsisten.
Langkah Diplomatik China untuk Meredakan Ketegangan
Kemarin, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi di Beijing. Dalam diskusi tersebut, Lin Jian menyatakan dukungan Tiongkok terhadap Iran dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya. “Kami mengapresiasi kesediaan Iran untuk mencari penyelesaian politik melalui jalur diplomatik,” lanjutnya. Selain itu, Lin Jian juga mendorong negara-negara Teluk dan Timur Tengah untuk mengambil nasib mereka sendiri, dengan menekankan pentingnya hubungan yang baik dan damai antar negara-negara di kawasan tersebut.
Sementara itu, negara-negara seperti Tiongkok terus memantau dinamika hubungan antara AS dan Iran. Pertemuan antara Wang Yi dan Araghchi hanya berselang dua minggu dari rencana pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Ini menunjukkan bahwa China aktif dalam mengkoordinasikan upaya diplomatis untuk menenangkan situasi di wilayah yang menjadi jalur vital bagi perdagangan energi global.
Konteks Operasi Militer dan Gencatan Senjata
Pertemuan antara kedua menteri luar negeri ini terjadi di tengah pemanasan situasi politik di Selat Hormuz. Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel meluncurkan serangan bersama terhadap target-target di Iran, menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Operasi tersebut dianggap sebagai langkah awal dalam konflik yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan. Namun, setelah perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil, Trump memperpanjang penghentian permusuhan sementara, memberi waktu kepada Iran untuk menyusun “proposal terpadu.”
“Project Freedom” disebut bersifat defensif, terbatas dalam cakupan, dan sementara. AS menganggap gencatan senjata yang disepakati sekitar sebulan lalu belum memenuhi syarat untuk dianggap selesai.
Ketegangan tersebut mencapai puncaknya saat Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April. Meski demikian, operasi militer AS terus berlangsung sebagai respons terhadap ancaman yang dirasa mengintai. Dalam konteks ini, Trump menyatakan bahwa “Proyek Freedom” bertujuan untuk memastikan kebebasan kapal-kapal internasional melewati Selat Hormuz, tetapi juga sebagai tindakan perlindungan terhadap keamanan perairan global.
Peran Pakistan dan Negara-Negara Lain dalam Proses Damai
Menurut Lin Jian, keputusan Trump untuk menghentikan operasi sementara didasarkan pada dukungan dari Pakistan dan negara-negara lainnya. “Permintaan negara-negara regional harus menjadi pertimbangan utama dalam mengambil langkah strategis,” ujarnya. Tiongkok menganggap bahwa kebijakan AS untuk menangguhkan operasi militer memberikan ruang bagi negosiasi yang lebih produktif, khususnya dalam mengatasi kekhawatiran dari pihak-pihak terkait.
Sebagai langkah selanjutnya, China berharap semua pihak akan bertindak bijaksana dan menghindari eskalasi lebih lanjut. “Kami mendukung upaya untuk menyelesaikan perselisihan melalui dialog, serta segera memulihkan perdamaian dan ketenangan di Selat Hormuz,” imbuh Lin Jian. Kebijakan Tiongkok ini berupaya untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan stabilitas regional.
Analisis Dari Pihak AS dan Iran
Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, juga memberikan pernyataan bahwa operasi militer bersama AS dan Israel terhadap Iran telah berakhir. Namun, ia mengakui bahwa posisi Pentagon tetap memperbarui kekuatan militer di kawasan tersebut karena ancaman masih ada. “Proyek Freedom” dianggap sebagai perwujudan dari komitmen AS untuk melindungi jalur perairan yang vital bagi ekonomi global, tetapi juga sebagai tindakan defensif dalam mengantisipasi aksi militer Iran.
Kegiatan militer yang dimulai pada 28 Februari tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil, menciptakan krisis diplomatik yang memicu gencatan senjata. Namun, kemitraan antara AS dan Iran tetap dipertahankan dengan harapan penyelesaian perjanjian yang lebih kuat. Dalam hal ini, Tiongkok berperan sebagai mediator, mengusulkan dialog yang inklusif dan mendorong negosiasi yang jelas.
Beijing juga mengingatkan bahwa keadaan di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi keamanan regional, tetapi juga ekonomi global. “Kedaulatan dan keamanan perairan tersebut harus menjadi prioritas bagi semua negara yang terlibat,” kata Lin Jian. Ia menegaskan bahwa China akan terus berupaya untuk meredakan ketegangan, termasuk melalui peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral.
Dengan berbagai langkah yang diambil oleh AS, Iran, dan Tiongkok, situasi di Selat Hormuz berpotensi menemukan titik temu. Namun, keberhasilan ini bergantung pada keseriusan semua pihak dalam menjunjung kepentingan bersama dan menghindari keputusan yang memicu eskalasi lebih lanjut.
