Solving Problems: Rizky Inggar akui tantangan perankan suster di “Gudang Merica”
Rizky Inggar akui tantangan perankan suster di “Gudang Merica”
Pengalaman Pemain dalam Membangun Karakter di Film “Gudang Merica”
Solving Problems – Di tengah persiapan pengambilan gambar film “Gudang Merica”, aktor Rizky Inggar dan Bonar Manalu berbagi cerita tentang proses menciptakan karakter mereka. Kedua pemain ini menyadari bahwa peran yang diambil memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menggambarkan aspek medis yang menjadi latar utama kisah film tersebut.
Rizky Inggar, yang memerankan tokoh suster Ella, mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengikuti lokakarya medis yang diselenggarakan produksi. Meski durasinya hanya satu hari, ia merasa hal tersebut sangat bermanfaat dalam memahami konteks kerja profesi medis. “Saya ikut satu hari. Teman-teman lain belajar lebih banyak, dari CPR hingga cara mengatasi situasi di rumah sakit,” ujarnya dalam wawancara dengan media di Kantor Berita ANTARA, Selasa lalu. Proses ini, menurut Rizky, membantu para pemain merasakan atmosfer dunia medis yang menjadi fondasi cerita film.
“Saya banyak observasi, lihat bagaimana suster bekerja, cara berjalan, sampai interaksi mereka. Karena saya pribadi belum pernah menemukan suster yang galak, dan di sini aku diminta jadi galak, jadi itu tantangan tersendiri,” tambah Rizky.
Menurutnya, peran suster Ella menuntut pendalaman karakter selama sekitar dua bulan. Rizky mengakui bahwa ia menghabiskan waktu untuk menonton referensi visual, termasuk film dan dokumenter terkait dunia medis. “Proses ini melibatkan banyak penyesuaian, mulai dari gaya berbicara hingga ekspresi wajah, agar karakter terasa alami dalam konteks cerita,” jelasnya.
Dalam memerankan tokoh suster, Rizky menyadari bahwa ia harus memadukan sifat profesional dengan unsur dramatis. “Karakter yang diperankan tetap mengalami penyesuaian untuk kebutuhan dramatik film, tapi saya berusaha menjaga agar tidak terlalu berlebihan,” terangnya. Hal ini menjadi tantangan karena ia harus mengeksplorasi sisi lain dari karakter yang biasanya dianggap lembut.
Di sisi lain, Bonar Manalu yang memainkan peran Gunawan, seorang antagonis, tidak mengikuti lokakarya medis. Karakternya lebih fokus pada konflik emosional dan hubungan dengan tokoh-tokoh lain dalam cerita. “Karena karakter saya tidak terlibat langsung di adegan medis, jadi tidak ikut workshop. Tapi tetap mengikuti arahan sutradara, termasuk improvisasi di lokasi,” katanya.
Bonar menjelaskan bahwa improvisasi menjadi bagian penting dalam produksi film. Meski ia tidak melakukan riset medis secara mendalam, ia tetap memperhatikan detail kecil untuk memastikan adegan terasa realistis. “Sutradara Imam Darto sangat menekankan pentingnya improvisasi, jadi kami berusaha menyesuaikan dengan suasana dan alur yang terjadi di lapangan,” ujarnya.
Kisah film “Gudang Merica” menggabungkan empat mahasiswa koas dengan latar dunia medis yang penuh misteri. Cerita ini tidak hanya menampilkan aspek profesional di rumah sakit, tetapi juga memadukan unsur horor dan komedi untuk menarik penonton. Proses produksi film ini dianggap cukup kompleks karena memerlukan keseimbangan antara kesan realistis dan kreativitas dalam membangun konflik.
Rizky Inggar mengakui bahwa ia memulai persiapan peran dengan observasi langsung di lingkungan rumah sakit. “Saya mencoba memahami kebiasaan suster, termasuk bagaimana mereka menangani pasien dan situasi darurat,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa eksperimen dengan gaya berbicara dan ekspresi wajah menjadi bagian dari upaya menghidupkan karakter yang dianggap unik di antara para pemain.
Bagi Bonar, tantangan utamanya adalah mengubah pola pikir dari karakter yang biasanya santai menjadi seseorang yang menunjukkan sifat keras kepala. “Saya perlu memahami motivasi Gunawan agar tindakannya terasa masuk akal, meski terkesan membingungkan bagi penonton,” jelasnya. Ia mengungkapkan bahwa improvisasi di lokasi syuting memungkinkan ia menyesuaikan adegan dengan dinamika yang terjadi di lapangan.
Menurut Rizky, pendalaman karakter tidak hanya terbatas pada riset teori, tetapi juga melibatkan pengalaman pribadi. “Saya mengingat saat berada di rumah sakit dulu, banyak hal yang menarik untuk diperhatikan. Proses ini membantu saya membangun hubungan antara karakter dan konteks cerita,” ujarnya. Kombinasi antara pengalaman langsung dan improvisasi dianggap penting untuk membuat karakter lebih hidup.
Proses produksi film ini juga memperlihatkan kolaborasi yang intens antara aktor dan sutradara. Imam Darto, yang memimpin produksi, dikatakan sangat kreatif dalam mengatur adegan agar terasa alami. “Selama masa syuting, sutradara terus memberikan arahan yang memicu kreativitas kami, termasuk dalam menyesuaikan tindakan dan dialog,” kata Bonar.
Film “Gudang Merica” dirilis pada 21 Mei 2026, diharapkan mampu menyajikan kisah yang menarik dan misterius. Dengan elemen horor yang berbeda dari film-film sebelumnya, Rizky dan Bonar berharap bisa menghadirkan kisah yang menyentuh sekaligus menghibur. “Kami ingin menunjukkan bahwa dunia medis tidak hanya serius, tetapi juga bisa memicu ketegangan dan humor yang luar biasa,” ujar Rizky.
Para pemain juga mengakui bahwa peran yang diambil membutuhkan adaptasi yang signifikan. Untuk Rizky, memerankan suster yang galak menjadi tantangan karena ia harus mengubah sikap yang biasanya santai menjadi seseorang yang penuh kepercayaan diri. Sementara Bonar, meski tidak terlibat dalam adegan medis, tetap berusaha membangun karakter antagonis yang memperkaya cerita.
“Gudang Merica” menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang dunia koas dan medis. Film ini tidak hanya menggambarkan kehidupan mahasiswa di kampus, tetapi juga mempertanyakan peran mereka dalam menghadapi tantangan yang mengubah cara berpikir dan bertindak. Dengan kombinasi genre yang unik, Rizky Inggar dan Bonar Manalu berharap film ini mampu menyentuh pemirsa dan memberikan pengalaman yang berbeda.
Dalam keseluruhan proses, keduanya sepakat bahwa kuncinya adalah kerja sama tim dan komitmen untuk memahami karakter secara mendalam. “Meski ada tantangan, saya merasa proses ini sangat memuaskan. Saya belajar banyak tentang dunia medis dan bagaimana menggambarkannya secara kreatif,” pungkas Rizky. Bonar pun menambahkan bahwa adegan yang diimprovisasi di lokasi syuting memberikan ruang untuk eksplorasi dan pengembangan karakter yang lebih dinamis.
“Gudang Merica” akan menjadi salah satu film yang menarik untuk ditunggu, terutama bagi penggemar genre horor dan komedi. Dengan penyesuaian yang dilakukan para pemain, film ini diharapkan mampu menyajikan kisah yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga dalam narasi yang konsisten dan mengejutkan.
Menghadapi proyek ini, Rizky Inggar dan Bonar Manalu merasa bahwa pendekatan mereka berbeda, tetapi tetap saling mendukung. “Kami berusaha memadukan aspek
