Key Strategy: Estonia ajak Indonesia perkuat kerja sama sektor teknologi maritim
Estonia Ajak Indonesia Perkuat Kerja Sama di Sektor Teknologi Maritim
Misi Bisnis Industri Maritim Estonia di Jakarta
Key Strategy – Jakarta, Selasa – Estonia berharap memperkuat kerja sama dengan Indonesia dalam bidang teknologi dan kemaritiman. Dalam acara Misi Bisnis Industri Maritim Estonia yang diadakan di ibu kota, Menteri Infrastruktur Estonia Kuldar Leis menekankan bahwa Indonesia menjadi mitra strategis dalam mengembangkan pasar di sektor tersebut. Kedua negara memiliki fokus yang sama pada laut sebagai bagian penting dari pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga menawarkan peluang kolaborasi yang signifikan.
“Indonesia, sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia, dan Estonia, sebagai pelopor di sektor digital, dapat saling melengkapi dengan berbagai cara yang bermakna,” ujar Kuldar Leis dalam sambutannya.
Menurut Leis, Estonia sudah menerapkan berbagai teknologi digital ke dalam sektor maritimnya, termasuk pengembangan pelabuhan cerdas, sistem optimasi energi, dan perencanaan lalu lintas pelayaran otomatis. Hal ini menunjukkan komitmen negara tersebut untuk mendorong inovasi dalam pelayaran nasional. Ia juga menyebutkan bahwa ekosistem klaster pengembangan kemaritiman Estonia yang terdiri dari perusahaan, institusi riset, sektor bisnis, serta pemerintahan menjadi dasar utama dalam mewujudkan solusi digital yang nyata.
Leis menjelaskan bahwa penerapan teknologi digital di sektor maritim tidak hanya efektif, tetapi juga mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan industri. Dengan pengalaman dalam integrasi teknologi, Estonia siap berkontribusi pada digitalisasi pelayaran Indonesia. Tujuan utamanya adalah menciptakan keterlibatan yang lebih dalam, sehingga Indonesia dapat mempercepat transisi ke sistem pelayaran modern yang efisien dan berkelanjutan.
Dubes Estonia untuk Indonesia, Veikko Kala, menyetujui pandangan serupa. Ia menekankan bahwa Estonia memiliki solusi yang fleksibel dan efisien untuk mendukung Indonesia dalam mengadopsi teknologi kemaritiman hijau. “Kami melihat potensi yang sangat kuat antara Indonesia dan Estonia dalam upaya transisi ke perkapalan hijau,” kata Kala.
Kala menambahkan bahwa kolaborasi antara kedua negara bisa berfokus pada teknologi dekarbonisasi dan solusi energi yang diterapkan di pelabuhan. Dalam konteks Indonesia yang sedang berupaya memperkuat sektor maritim, Estonia bisa menjadi mitra yang ideal untuk menciptakan inovasi dalam kaitannya dengan lingkungan. Ia juga menggarisbawahi bahwa penerapan teknologi baru pada kapal yang sudah ada, atau retrofitting, adalah bagian dari upaya memperluas kemampuan industri maritim.
Menurut Kala, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadopsi teknologi yang sudah teruji di Estonia. Salah satu keunggulan yang ditawarkan negara Eropa tersebut adalah kecanggihan solusi digital dalam pengelolaan pelabuhan dan pengurangan emisi karbon. Pada saat yang sama, Estonia menyatakan keberanian untuk menawarkan teknologi yang terintegrasi dan berkala, sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Sebagai negara dengan sektor maritim yang berkontribusi hingga 5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, Indonesia menunjukkan pentingnya bidang ini dalam perekonomian. Dengan bantuan teknologi digital yang diperkenalkan oleh Estonia, negara ini berharap dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing industri pelayaran. Kala mengatakan bahwa inovasi teknologi hijau yang dipromosikan oleh Estonia bisa memberikan dampak besar dalam mendukung perekonomian Indonesia.
Leis menegaskan bahwa Estonia telah membuktikan kemampuannya dalam menggabungkan teknologi digital dengan sektor maritim. Berbagai inisiatif seperti pelabuhan cerdas dan sistem lalu lintas otomatis menjadi contoh nyata bahwa negara kecil ini mampu menawarkan solusi yang relevan untuk industri besar seperti pelayaran Indonesia. Ia juga mengatakan bahwa pendekatan kolaboratif antara kedua negara bisa menghasilkan keunggulan bersama, terutama dalam pengelolaan sumber daya maritim yang lebih optimal.
Kolaborasi dalam bidang teknologi maritim tidak hanya terbatas pada pengembangan infrastruktur, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas operasional. Estonia berharap bahwa keahlian di bidang digital bisa menjadi katalisator bagi transisi Indonesia ke perkapalan hijau, yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Kedua pihak menjanjikan untuk melanjutkan diskusi dan kemitraan yang lebih erat, terutama dalam upaya menciptakan sistem pelayaran yang lebih canggih.
Dubes Kala menyampaikan bahwa keberhasilan Estonia dalam mengembangkan koridor perkapalan menjadi inspirasi bagi Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi terkini, negara tersebut mampu meningkatkan efisiensi transportasi laut dan mengurangi dampak lingkungan. Ia menambahkan bahwa retrofitting pada kapal-kapal tradisional bisa menjadi pilihan strategis untuk memperbarui sistem transportasi maritim Indonesia tanpa mengorbankan biaya operasional yang tinggi.
Indonesia sendiri, dengan luas perairan yang sangat besar, memerlukan solusi yang dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya laut secara bijak. Estonia berharap bisa memberikan kontribusi dalam hal pengelolaan energi dan pengurangan polusi, yang merupakan bagian dari visi transisi hijau di bidang maritim. Kedua negara sepakat bahwa kolaborasi ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kebijakan dan keputusan strategis yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
