Latest Program: Anggota DPR sebut perempuan miliki potensi besar gerakkan UMKM
Anggota DPR: Perempuan Miliki Potensi Besar untuk Menggerakkan UMKM
Jakarta – Dalam sebuah acara yang digelar di Provinsi Riau, Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, Hendry Munief, mengungkapkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Acara tersebut berupa Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah (SWA) Angkatan I, yang berlangsung pada hari Sabtu, 25 April. Hendry menekankan bahwa dengan pendampingan yang tepat, perempuan mampu menjadi motor penggerak utama dalam menciptakan kemandirian ekonomi nasional.
Paparan Hendry Munief
Hendry menambahkan bahwa peningkatan kompetensi digitalisasi perlu menjadi prioritas untuk memperkuat kapasitas para wanita dalam membangun usaha mereka. Ia menjelaskan bahwa akses ke teknologi dan pelatihan digital tidak hanya membantu mengoptimalkan operasional UMKM, tetapi juga memperluas peluang pasar bagi para pelaku usaha perempuan. “Dengan pelatihan yang terarah dan infrastruktur yang memadai, mereka bisa menjadi pilar utama dalam penguatan ekonomi nasional,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
“Dukungan pelatihan dan akses yang tepat, mereka dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan kemandirian ekonomi nasional,” kata Hendry dikutip dari keterangan diterima di Jakarta, Senin.
Menurut Hendry, digitalisasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing produk UMKM. Ia menyoroti bahwa pemanfaatan media digital bisa membuka jangkauan pasar yang lebih luas, baik secara nasional maupun internasional. Dalam konteks ini, ia menekankan perlunya standarisasi produk untuk memastikan kualitas yang konsisten, sehingga mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, penguasaan teknologi juga dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan efisiensi operasional usaha.
Peran Pemimpin PW Aisyiyah Riau
Acara Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah (SWA) Angkatan I di Riau diselenggarakan oleh Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PW Aisyiyah) Riau. Keberhasilan program ini dianggap sebagai momen penting dalam memperkuat kapasitas ekonomi perempuan di daerah tersebut. Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan, SWA bertujuan mengembangkan keterampilan wirausaha di kalangan perempuan, khususnya dalam era digital yang semakin berkembang.
“Kami berharap para lulusan tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi juga agen perubahan yang mampu menginspirasi perempuan lainnya untuk mandiri secara ekonomi,” ucapnya.
Ketua PW Aisyiyah Riau, Hikmani, dalam sambutannya memaparkan pentingnya perempuan dalam menopang perekonomian keluarga dan masyarakat. Ia menyatakan bahwa program SWA memberikan bekal yang komprehensif, baik dalam aspek keterampilan, pemikiran kritis, maupun strategi pemasaran. “Perempuan memiliki peran sentral dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi, terutama ketika diberikan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hikmani juga menyoroti bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya bergantung pada sumber daya manusia, tetapi juga pada dukungan sistemik, seperti akses ke modal, teknologi, dan pasar. Ia menjelaskan bahwa SWA tidak hanya mengajarkan teknik operasional usaha, tetapi juga membangun kepercayaan diri para peserta untuk mengambil risiko dan berinovasi. “Kami percaya bahwa dengan pengembangan kompetensi tersebut, perempuan bisa mengubah pola pikir dan pola kerja mereka menjadi lebih produktif dan berkelanjutan,” ujar Hikmani.
Pelatihan yang diselenggarakan sebagai bagian dari SWA Angkatan I melibatkan berbagai topik, seperti manajemen keuangan, pemasaran digital, dan pengelolaan risiko usaha. Program ini dirancang untuk mengisi celah antara kebutuhan masyarakat dan akses informasi yang terbatas, khususnya bagi perempuan yang ingin berkiprah di bidang wirausaha. Hendry Munief menyetujui pendekatan tersebut, karena ia berpandangan bahwa pendidikan wirausaha harus disesuaikan dengan dinamika pasar modern. “Digitalisasi adalah bagian dari kebutuhan wirausaha kontemporer, jadi kita harus memastikan bahwa perempuan mendapat kesempatan untuk menguasainya,” tambahnya.
Selain itu, Hendry juga menyoroti peran pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan UMKM. Ia menyarankan bahwa kebijakan yang lebih inklusif perlu dijalankan untuk memastikan bahwa perempuan tidak terabaikan dalam pembangunan ekonomi. “Kami mengharapkan kolaborasi antara lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk menguatkan posisi perempuan sebagai aktor utama dalam perekonomian,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa UMKM yang dijalankan oleh perempuan memiliki keunikan dalam hal inovasi dan pelayanan, yang bisa menjadi daya tarik bagi konsumen.
Menurut Hikmani, Wisuda SWA Angkatan I bukan sekadar acara pemberian sertifikat, tetapi juga momen untuk membangun jaringan antar pelaku usaha perempuan. “Kami ingin menciptakan komunitas yang solid dan berdaya, sehingga mereka bisa saling mendukung serta berbagi pengalaman,” kata Hikmani. Ia juga menyebutkan bahwa program ini bisa menjadi contoh yang berhasil, baik untuk kota-kota lain di Indonesia maupun wilayah-wilayah di luar negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, partisipasi perempuan dalam wirausaha semakin meningkat. Hal ini didukung oleh berbagai program pemerintah dan lembaga swadaya, seperti SWA, yang berupaya mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri para pesertanya. Hendry Munief menilai bahwa keberhasilan ini adalah bentuk respons positif dari masyarakat terhadap inisiatif pemberdayaan perempuan. “UMKM yang dijalankan oleh perempuan bisa menjadi solusi bagi peningkatan ekonomi lokal, terutama di daerah-daerah yang masih menghadapi tantangan dalam perekonomian,” jelasnya.
Program SWA Angkatan I di Riau dianggap sebagai wujud komitmen PW Aisyiyah dalam mendorong kemandirian ekonomi perempuan. Hikmani menjelaskan bahwa program ini telah melibatkan ribuan peserta yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga, wanita muda, dan ibu-ibu muda yang ingin berkiprah di dunia bisnis. “Para peserta tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga semangat untuk terus belajar dan berkembang,” ujarnya.
Dengan adanya program seperti ini, Hikmani berharap bahwa perempuan bisa semakin aktif dalam mengelola usaha mereka, baik secara mandiri maupun kolaboratif. Ia juga menekankan bahwa UMKM perempuan perlu didukung oleh berbagai faktor, seperti kebijakan yang adil, akses ke pembiayaan, dan pemasaran yang strategis. “Kami percaya bahwa dengan dukungan yang memadai, perempuan bisa menjadi tulang punggung perekonomian keluarga dan masyarakat,” katanya.
Kehadiran para pembicara dan pembina dalam acara tersebut menunjukkan tingginya antusiasme
