Strategi Penting: IEA peringatkan potensi kekurangan solar dan kerosin di Eropa

kimia

IEA Ingatkan Risiko Kelangkaan Solar dan Kerosin di Eropa

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengungkapkan adanya ancaman kekurangan solar serta kerosin di Eropa jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda. Dalam wawancara dengan majalah Jerman Der Spiegel, ia menekankan bahwa persediaan bahan bakar tersebut bisa habis dalam beberapa minggu jika pasokan terus terganggu.

“Jika kondisi di Timur Tengah tetap tidak stabil, kelangkaan solar dan kerosin bisa terjadi di Eropa. Hal ini tidak langsung terjadi, tapi dalam jangka waktu singkat,” ujar Birol.

Pada awal April, Birol menyatakan bahwa Eropa memiliki stok kerosin cukup untuk dua bulan bila pengiriman terhenti total. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, banyak depot bahan bakar di wilayah tersebut telah kosong, menunjukkan tekanan yang meningkat.

Birol juga mengingatkan bahwa sebelum pecahnya konflik Timur Tengah, Eropa bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut. Tanpa peningkatan produksi global, situasi bisa memburuk hingga Mei 2023.

Strategi Jerman dan Pilihan Alternatif

Menyikapi harga bahan bakar yang tinggi, Birol menyarankan Jerman untuk menerapkan batasan kecepatan di jalan raya sebagai upaya mengurangi konsumsi. Ia juga menyoroti keputusan strategis Jerman menutup pembangkit listrik tenaga nuklir.

“Jerman melakukan kesalahan dengan menutup reaktor nuklir. Namun, membangun fasilitas besar seperti sebelumnya membutuhkan waktu dan biaya yang signifikan. Sebagai solusi, negara itu bisa mempertimbangkan reaktor modular kecil,” tambah Birol.

Dalam 2011, pemerintah Jerman di bawah Kanselir Angela Merkel memutuskan untuk menghentikan penggunaan energi nuklir sepenuhnya pada 2022. Tujuannya adalah untuk menghindari risiko serupa seperti kecelakaan Fukushima. Hingga 2022, hanya tiga pembangkit nuklir yang masih beroperasi, yaitu Isar 2, Neckarwestheim 2, dan Emsland.

Operasi ketiga fasilitas ini diperpanjang hingga pertengahan April 2023 karena terganggunya pasokan gas dari Rusia. Setelah itu, mereka ditutup secara permanen. Sementara itu, pada Selasa (7/4), Presiden AS Donald Trump menyatakan telah menyetujui gencatan senjata bilateral dua minggu dengan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (8/4), menegaskan bahwa Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama 20 persen pasokan global minyak, produk minyak, dan LNG, akan kembali dibuka. Hal ini memperlihatkan upaya untuk stabilisasi pasokan energi di kawasan tersebut.