Momen Bersejarah: Menyusuri Aceh: Dari Lumpur, Harapan, hingga Ketegaran (1)

Menyusuri Aceh: Dari Lumpur, Harapan, hingga Ketegaran (1)
Kondisi Pasca Bencana
Jakarta – Empat bulan sudah berlalu sejak bencana banjir dan longsor mengakibatkan kehilangan nyawa, harta, serta kenangan banyak orang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pertanyaan muncul: Bagaimana kondisi masyarakat setelah kejadian? Apakah mereka telah pulih? Dan apakah program pemulihan yang dilakukan pemerintah berjalan lancar?
Liputan Berjenjang
Untuk mengungkap jawaban, ANTARA melakukan liputan bertajuk “Bangkit Sumatera” dalam tiga tahap: 22–31 Januari (sebelum Ramadhan), 15–24 Februari (selama Ramadhan), dan 15–24 Maret (hingga Idul Fitri 2026). Tim pertama memulai perjalanan ke wilayah terdampak di Aceh, mulai dari Aceh Tamiang hingga Aceh Timur, untuk mengamati proses pemulihan langsung.
Kehidupan yang Mulai Terlihat
Perjalanan dimulai pukul 05.00 dari Medan menuju Aceh Tamiang, memakan waktu tiga jam menggunakan mobil. Setelah melewati perbatasan Aceh-Medan, kota itu terlihat penuh dengan debu dari sisa lumpur yang mengering, membuat jarak pandang terbatas. Di sepanjang jalan, ada tanda-tanda kehidupan yang kembali: toko kecil buka, pasar kembali ramai, dan warga mulai bangkit dari keterpurukan.
Alat Pemulihan yang Diberikan
Saat tiba di Kantor Bupati Aceh Tamiang, ANTARA menyaksikan upaya pemulihan yang nyata. Sembilan unit skid steer loader dari Presiden Prabowo diserahkan untuk mempercepat pembersihan.
“Sembilan unit skid loader ini kelas mini, cocok masuk ke gang-gang. Kalau ukuran besar, bisa merobohkan rumah,” ujar Mendagri Tito Karnavian saat menyalurkan alat tersebut.
Bantuan lain seperti ratusan sepatu bot, sekop, cangkul, dan gerobak dorong juga disalurkan untuk kebutuhan lapangan.
Jejak Bencana di Pesantren
Pada hari yang sama, tim ANTARA melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. Saat banjir menerjang, ribuan kayu gelondongan yang terbawa arus ditahan oleh pesantren, mencegahnya menghantam pemukiman warga. Di dalam asrama, tempat tidur dan buku-buku masih menyimpan jejak lumpur.
“Kita ceritakan kondisi kita, bagaimana butuh sarana mebeler untuk belajar mengajar serta asrama untuk santri boarding. Targetnya Ramadhan 2026, kita bisa boarding. Kemarin sudah kita sampaikan ke Pak Qodari,” kata pimpinan pesantren Mulkana.
