Gaya hidup minim sampah butuh konsistensi dan dukungan lingkungan

fasilitas air siap minum gratis 2764677

Gaya hidup minim sampah butuh konsistensi dan dukungan lingkungan

Menurut para pegiat lingkungan, mengubah pola hidup yang mengurangi sampah memerlukan keteraturan dan lingkungan sosial yang mendukung kebiasaan konsumsi sehari-hari. Perubahan ini tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan proses bertahap yang melibatkan komunitas sebagai penopang utama.

“Mulai dari hal sederhana, lalu cari lingkungan pertemanan atau komunitas yang mulai peduli lingkungan untuk saling mendukung dan menjadi tempat berbagi pengalaman,” kata Atha saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.

Di sisi lain, Tiza Mafira, Direktur Climate Policy Initiative, menekankan pentingnya memulai dari kebiasaan kecil yang realistis agar perubahan bisa terus dilakukan. Ia menyarankan konsumen untuk mengganti satu atau dua kebiasaan, seperti menggunakan tumbler dan kantong belanja, sebagai langkah awal.

“Jangan hanya ‘mengoleksi’ atau ‘menimbun’ botol dan kantong belanja di rumah karena ujungnya bisa menjadi sampah. Jadikan hal ini sebagai hal yang biasa, bukan extraordinary, sehingga kita tidak merasa tertekan ketika sudah terbiasa,” ujar Tiza.

Tiza juga meminta masyarakat untuk lebih aktif menyampaikan preferensi kemasan saat berbelanja online. Ia menyarankan konsumen meminta vendor menggunakan kardus dan kertas bekas saja, tanpa plastik, tas spunbound, atau bubble-wrap berlapis-lapis.

“Kalau mau belanja online, tinggalkan pesan kepada vendornya: cukup pakai kardus dan kertas bekas saja, tidak perlu plastik, tas spunbound, ataupun bubble-wrap berlapis-lapis. Ini akan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan UMKM,” ujarnya.

Selain itu, Tiza menyoroti peran usaha dalam mendorong pola hidup minim sampah. Ia berpendapat bahwa bisnis juga harus menyesuaikan sistem transaksi, seperti menyediakan alat makan guna ulang ketimbang plastik, terutama saat pelanggan makan dine-in di restoran.

“Zero waste ini juga harus berlaku untuk pelaku usaha karena konsumen mengikuti sistem transaksi yang disediakan. Misalnya kalau kita makan dine-in di restoran, sediakan alat makan guna ulang, tidak perlu sediakan sedotan plastik karena kita bisa langsung minum dari gelas,” kata dia.

Tiza menambahkan, mendukung ekonomi hyperlokal bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi limbah. Ia mendorong masyarakat membeli makanan dari pedagang sekitar, seperti sate, bubur, atau bakmi, dengan membawa wadah sendiri.