Kebijakan Baru: Pemkot Jaktim perkuat kolaborasi ASN jadi orang tua asuh anak stunting
Pemkot Jaktim Berupaya Tingkatkan Peran ASN Sebagai Orang Tua Asuh Anak Stunting
Jakarta – Pemerintah Kota Jakarta Timur terus berupaya mengurangi angka anak stunting melalui keterlibatan aktif pegawai negeri sipil (ASN) sebagai pelaku pendampingan. Dalam upaya ini, Walikota Jakarta Timur Munjirin mengungkapkan bahwa program orang tua asuh menjadi salah satu strategi yang dijalankan. “Kami mendorong ASN untuk terlibat langsung dalam membantu anak-anak yang terindikasi stunting, baik yang sedang dalam proses maupun sudah terdiagnosis,” terang Munjirin di Jakarta, Selasa.
Pendampingan Per Sekor untuk Pemenuhan Gizi
Dalam mekanisme yang diterapkan, setiap ASN dianjurkan mengawasi satu hingga dua anak stunting untuk memastikan asupan nutrisi yang memadai. “Sistem ini dirancang agar bantuan lebih tepat sasaran, dengan satu orang tua asuh bertanggung jawab atas satu atau dua anak,” jelas Munjirin. Ia menekankan pentingnya inovasi seperti program bapak asuh dan anak asuh, serta peran aktif lurah dan camat dalam menggandeng berbagai pihak.
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara terpisah, tetapi harus menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari faktor ekonomi, pengetahuan orang tua tentang pola asuh, hingga kondisi lingkungan,” kata Munjirin.
Munjirin menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menurunkan angka stunting secara signifikan dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal ini, Pemkot Jakarta Timur melakukan penandatanganan komitmen bersama selama Musrenbang tematik stunting, yang digelar Senin (6/4). “Kemitraan ini mencerminkan komitmen seluruh pihak untuk mengatasi stunting secara bersama,” ujarnya.
Kasus Stunting di Jakarta Timur Tahun 2025
Sebelumnya, Pemkot Jakarta Timur fokus mengatasi 83 anak stunting di Kecamatan Cipayung. Dari jumlah tersebut, 10 anak mengalami gizi buruk, sementara 73 lainnya memiliki masalah gizi buruk. Pemantauan ketat dilakukan terutama dalam pemberian makanan tambahan selama tiga bulan. Sementara itu, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur mencatatkan 812 kasus stunting pada awal tahun 2025, terdiri dari 268 kasus stunting sangat pendek dan 544 kasus stunting pendek.
Menurut data, Kecamatan Cakung menjadi wilayah dengan angka tertinggi sebanyak 147 anak, diikuti Kramat Jati (102), Matraman (100), dan Cipayung (95). Wilayah Ciracas, Duren Sawit, serta Jatinegara masing-masing mencatatkan 82, 69, dan 69 kasus. Kecamatan Pulogadung (57) serta Pasar Rebo (53) juga termasuk dalam daftar wilayah yang mengalami peningkatan kasus stunting.
Menurut Munjirin, partisipasi ASN dan pihak terkait di tingkat wilayah mampu mempercepat penyelesaian masalah stunting secara terarah. “Kami optimistis dengan kerja sama lintas sektor dan program inovatif, angka stunting bisa terus menurun,” imbuhnya. Ia juga berharap seluruh peserta aktif berkontribusi dalam upaya ini, sehingga target penurunan bisa tercapai secara berkelanjutan.
