Kebijakan Baru: HIMKI dorong pengembangan hub distribusi, sikapi dinamika global

61d6e1a7 6ae5 41fa aaf1 18947eeebf2e 0

HIMKI Dorong Pengembangan Hub Distribusi, Sikapi Dinamika Global

Dari Jakarta – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mengusulkan pembangunan pusat distribusi dan pemasaran global sebagai langkah adaptif menghadapi perubahan geopolitik serta ketidakpastian ekonomi internasional. Abdul Sobur, Ketua HIMKI, dalam pernyataan resmi di Jakarta, Minggu, menekankan bahwa konflik di wilayah Timur Tengah telah mengguncang sektor mebel dan kerajinan yang bergantung pada sistem rantai pasok global. Ia menjelaskan bahwa gangguan logistik, penundaan pengiriman, dan kehati-hatian pembeli dalam transaksi menjadi indikator nyata dampak tersebut.

“Barang tertahan, pengiriman tertunda dan ritme pembayaran melambat,” kata Sobur.

Kondisi ini menunjukkan pergeseran struktural di sektor mebel, bukan hanya fluktuasi pasar biasa. Sobur menambahkan bahwa sektor ini kini dihadapkan pada tantangan baru yang memerlukan kemampuan adaptasi tinggi. “Kita tidak hanya berbicara tentang perubahan pasar, tetapi juga transformasi global yang memengaruhi kestabilan ekonomi dalam negeri,” ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, HIMKI mengusulkan diversifikasi pasar ekspor serta penguatan jalur distribusi alternatif. Inisiatif konkret yang sedang diterapkan meliputi pembangunan hub pemasaran di Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Menurut Sobur, langkah ini bertujuan memperpendek proses distribusi, memperkuat hubungan langsung dengan pelaku pasar, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.

“HIMKI sedang mendorong pembentukan hub di Eropa, Amerika, dan Kanada sebagai bagian dari strategi jangka menengah. Ini bukan sekadar ekspansi, tetapi upaya membangun sistem distribusi yang lebih stabil dan adaptif terhadap perubahan global,” jelasnya.

Sobur menegaskan bahwa inisiatif ini membutuhkan dukungan pemerintah, baik melalui kebijakan, pembiayaan, maupun diplomasi perdagangan. “Pemerintah perlu menjadi mitra kunci dalam mengubah tantangan geopolitik menjadi peluang,” tambahnya. Di masa depan, HIMKI berharap momentum tekanan global dapat dimanfaatkan untuk mereformasi sistem industri yang lebih tangguh dan fleksibel.

Upaya Kementerian Perindustrian

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga memiliki rencana yang sejalan dengan tujuan HIMKI. Menurut Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, industri furnitur dianggap sebagai model hilirisasi kayu yang kritis. “Industri ini bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan dampak positif yang luas bagi perekonomian nasional,” katanya.

“Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan meningkatkan kapasitas produksi dan mampu memimpin di bidang desain serta keberlanjutan,” ujarnya.