Yang Dibahas: Tiga prajurit gugur, RI dorong evaluasi keamanan pasukan perdamaian

1000024354

Tiga prajurit gugur, RI dorong evaluasi keamanan pasukan perdamaian

Jakarta – Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyatakan pemerintah meminta Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait aspek keselamatan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah penugasan. Fokus evaluasi khususnya ditujukan pada operasi UNIFIL di Lebanon, setelah tiga prajurit TNI mengorbankan nyawa mereka saat menjalankan tugas di sana.

“Kita kembali berharap agar pasukan perdamaian kita diberi perlindungan, sehingga dapat menjalankan misi dengan aman dan tenang,” ujar Sugiono di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4).

Pemerintah menyampaikan belasungkawa terhadap tiga personel yang gugur, yaitu Mayor Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Serka Muhammad Nur Ichwan, serta Kopda Farizal Rhomadon. Menlu menegaskan dukungan dan doa untuk keluarga yang ditinggalkan, serta harapan agar arwah para prajurit diterima oleh Tuhan.

Dalam laporan tambahan, Sugiono mengungkapkan bahwa tiga prajurit lainnya mengalami cedera serius. “Laporan tadi malam menyebutkan tiga TNI terluka, dengan penyebab kejadian sedang ditelusuri oleh UNIFIL,” tambahnya.

Sebagai respons, Indonesia melalui perwakilan tetap di New York meminta Dewan Keamanan PBB mengadakan rapat khusus. Permintaan ini telah disetujui oleh Prancis, yang bertugas sebagai penholder isu Lebanon di lembaga tersebut.

“Rapat fokus pada dua poin utama: pertama, menyatakan penolakan terhadap serangan terhadap pasukan perdamaian; kedua, menuntut investigasi menyeluruh guna mengidentifikasi penyebab insiden,” jelas Sugiono.

Menlu menekankan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian adalah tindakan tidak dapat dibenarkan. Ia juga menyoroti perlunya jaminan keamanan yang memadai bagi personel TNI yang bertugas di luar negeri.

“Mereka adalah pejuang perdamaian, bukan peacemaking,” kata Sugiono. “Alat dan pelatihan mereka diberikan agar mampu menjaga situasi damai, sesuai dengan mandat PBB.”

Langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk tidak hanya merasa sedih, tetapi juga memimpin upaya perbaikan. Pengorbanan para prajurit, menurut Menlu, harus menjadi peringatan bahwa negara tetap hadir, menghormati, dan melindungi setiap anggota TNI di mana pun mereka bertugas, demi menciptakan dunia yang lebih aman.