Agenda Utama: BGN tangguhkan operasional SPPG Pondok Kelapa usai dugaan keracunan

4cc6b1ba fb5a 449c abe0 bf7f0193e996 0

BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG Pondok Kelapa

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara kegiatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, setelah muncul laporan dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerang 72 siswa. Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa penyebab terjadinya insiden ini masih dalam proses investigasi.

“Selain kasus keracunan, kami juga menemukan bahwa SPPG tersebut belum memenuhi standar prosedur yang ditetapkan. Oleh karena itu, operasionalnya ditangguhkan secara permanen karena kondisi dapur dan sistem pengolahan limbah air belum mencapai tingkat kebersihan yang ideal,” ujar Nanik.

BGN menyatakan telah mengambil alih biaya pengobatan seluruh siswa yang saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit. “Kami memohon maaf atas kejadian ini dan akan bertanggung jawab penuh terhadap biaya perawatan mereka,” tambah Nanik.

Koordinasi Pemulihan Cepat

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut bahwa penanganan kejadian ini berjalan cepat melalui kerja sama antara BGN, Pemerintah Provinsi DKI, serta dinas terkait. “Kami sudah memastikan pengobatan untuk siswa yang terkena dampak, dan bagi yang terdaftar BPJS Kesehatan, biaya akan ditanggung sepenuhnya hingga pemulihan,” kata Pramono.

Pemkot Jakarta Timur Fokus pada Kesehatan Siswa

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) menekankan prioritas penanganan kesehatan para korban. “Sudin Pendidikan tidak memiliki wewenang menentukan apakah ini keracunan atau bukan. Kami hanya fokus mengamankan keselamatan anak-anak,” jelas Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur, M. Fahmi.

“Kesimpulan penyebab kejadian tidak bisa diberikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dirilis. Maka, kita harus menunggu data yang dikeluarkan oleh laboratorium,” tambah Fahmi.

Pemkot Jaktim menyatakan sedang menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab insiden tersebut. Diharapkan para siswa dan guru yang terkena dapat pulih secepat mungkin dan kembali beraktivitas normal.