Rencana Khusus: Protes No Kings Kembali, Trump Didemo Jutaan Warga AS

1280px release the epstein files f96ba583 f271 4376 90e3 2e09d2984e01

Protes ‘No Kings’ Kembali Menggelinding, Trump Jadi Target Massa

Banyak warga Amerika kembali memicu gelombang protes besar-besaran setelah Presiden Donald Trump kembali menjabat. Aksi unjuk rasa yang dikenal sebagai ‘No Kings’ berlangsung di berbagai kota besar, termasuk New York, Washington DC, dan Los Angeles, pada Sabtu (28/3/2026). Demonstran menolak kebijakan pemerintahan Trump, seperti perang di Iran, kebijakan imigrasi ketat, serta kenaikan biaya hidup.

Di Washington DC, ribuan orang berkumpul di kawasan National Mall hingga tangga Lincoln Memorial, menciptakan konsentrasi massa terbesar dalam aksi ini. Sementara di New York, pengunjuk rasa memadati Times Square dan memaksa polisi menutup beberapa jalan utama. Kota-kota kecil seperti Shelbyville, Kentucky, dan Howell, Michigan, juga tidak ketinggalan turut serta dalam aksi tersebut.

Protes juga mengalami perluasan ke luar negeri, dengan partisipasi warga AS di Paris, London, dan Lisbon. Demonstran membawa spanduk yang mengkritik kebijakan Immigration and Customs Enforcement (ICE) serta menyuarakan penolakan terhadap penggunaan kekuasaan presiden secara otoriter. Penyelenggara aksi menyebut ini sebagai gelombang protes ketiga sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025.

Pemicu Utama Protes: Kematian Dua Warga Sipil di Minnesota

Minnesota menjadi pusat utama aksi, setelah dua orang tewas dalam operasi aparat imigrasi federal pada Januari lalu. Renee Nicole Good dan Alex Pretti menjadi korban, memicu kemarahan publik dan menjadi salah satu penyebab utama gelombang protes ini. Para pengunjuk rasa menuntut penjelasan atas kebijakan Trump, termasuk pengerahan Garda Nasional tanpa persetujuan gubernur.

“Trump ingin memerintah kita seperti seorang tiran. Tapi ini Amerika, dan kekuasaan ada di tangan rakyat—bukan di tangan calon raja atau kroni miliardernya,” ujar pihak penyelenggara, dilansir dari BBC, Minggu (29/3/2026).

Aparat keamanan dilaporkan menggunakan langkah non-mematikan untuk mengendalikan kerumunan, meski sejumlah insiden terjadi. Di Los Angeles, dua petugas terluka setelah dilempari benda keras, sementara di Dallas muncul bentrokan kecil antara kelompok kontra-demonstran dan peserta aksi. Meski demikian, penyelenggara menyatakan kegiatan utamanya berjalan damai.

Presiden Trump membantah tudingan menjadi diktator, menegaskan dalam wawancara dengan Fox News Oktober 2025, “Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja.” Namun, kritikus menilai perluasan kekuasaan melalui perintah eksekutif sebagai ancaman terhadap demokrasi. Gelombang protes ini muncul di tengah ketegangan global akibat konflik Timur Tengah dan kebijakan Trump yang semakin kontroversial.

DHS mencatat sekitar 1.000 perusuh mengepung Gedung Federal Roybal dan melempar benda ke petugas. LAPD melakukan penangkapan setelah massa tidak mematuhi perintah membubarkan diri di area penjara federal. Meski aksi memicu ketegangan, penyelenggara tetap menegaskan bahwa intinya adalah aspirasi rakyat untuk melawan otoriterisme yang dianggap muncul dari kepemimpinan Trump.