Studi: Ghosting Lebih Menyakitkan dari Penolakan Langsung – Dampaknya Bisa Lebih Lama
Studi: Ghosting Lebih Menyakitkan dari Penolakan Langsung, Dampaknya Bisa Lebih Lama
Tindakan ghosting, yang sering dianggap sebagai bentuk penolakan tersembunyi, ternyata memiliki dampak psikologis yang lebih tajam dibandingkan penolakan langsung, berdasarkan temuan penelitian terbaru. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Computers in Human Behavior pada November 2025, para peneliti menemukan bahwa kejutan akibat penghilangan tiba-tiba bisa memperpanjang rasa sakit emosional.
“Meskipun keduanya menyebabkan kekecewaan, ghosting lebih berat karena tidak memberi kesempatan untuk memahami alasan penolakan,”
kata penulis studi.
Konflik dalam Komunikasi Tidak Terjawab
Ketika seseorang menghilang tanpa memberi penjelasan, orang yang ditinggalkan sering merasa bingung dan sulit mengatasi perasaan tidak pasti. Situasi ini membuat proses penyembuhan lebih lambat, terlepas dari jenis kelamin responden.
Sejak 2017, penelitian tentang ghosting terus berkembang. Namun, banyak studi masih bergantung pada pengalaman pribadi yang bisa terpengaruh oleh bias subjektif. Untuk mengatasi hal ini, tim peneliti dari Universitas Milano-Bicocca merancang eksperimen langsung yang mengamati reaksi emosional terhadap dua metode penolakan: ghosting dan penolakan langsung.
Perbandingan Dua Skenario
Dalam eksperimen pertama, 46 peserta usia 19–34 tahun diberi tugas berkomunikasi melalui aplikasi Telegram selama enam hari. Mereka berinteraksi dengan asisten peneliti yang berperan sebagai lawan bicara. Selama tiga hari pertama, percakapan berjalan normal dengan topik sehari-hari. Mulai hari keempat, skenario diubah: sebagian peserta melanjutkan diskusi biasa, sebagian menerima penolakan langsung, sementara lainnya mengalami ghosting karena lawan bicara tiba-tiba menghentikan respons.
Hasil menunjukkan bahwa baik ghosting maupun penolakan langsung mengakibatkan perasaan diabaikan, penurunan harga diri, dan hilangnya kedekatan emosional. Namun, responden yang mengalami penolakan langsung cenderung lebih cepat pulih karena ada penjelasan jelas tentang akhir hubungan. Sebaliknya, ketidakpastian yang muncul dari ghosting membuat rasa ditolak bertahan lebih lama.
Studi Lanjutan untuk Perbaikan
Eksperimen kedua melibatkan 90 peserta selama sembilan hari, dengan pola serupa. Hasilnya mengonfirmasi temuan sebelumnya: ghosting menyebabkan respons emosional yang lebih lambat, tetapi lebih dalam dibandingkan penolakan langsung.
Peneliti mengakui bahwa studi ini memiliki keterbatasan karena dijalankan dalam kondisi terkontrol, serta hubungan yang dibangun hanya terbatas pada interaksi singkat. Dengan demikian, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang dari ghosting dalam hubungan kompleks.
Temuan ini menegaskan bahwa kejelasan dalam komunikasi adalah faktor utama dalam menjaga kesehatan emosional. Apakah Anda pernah mengalami ghosting? Bagaimana perasaan Anda setelahnya?
