Perang Iran Telan Korban Baru – Industri Minuman Terancam Kolaps
Perang Iran Telan Korban Baru, Industri Minuman Terancam Kolaps
Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik Iran semakin memperluas dampaknya, kini menghantam industri minuman di India. Produsen global mengkhawatirkan kenaikan harga dan gangguan pasokan besar akibat krisis energi di Timur Tengah.
Industri mengalami tekanan langsung, dengan Asosiasi Produsen Bir India (BAI) mencatat lonjakan signifikan biaya produksi. Harga botol kaca naik sekitar 20%, sementara harga karton kertas melonjak dua kali lipat. Kenaikan juga terjadi pada bahan kemasan lain seperti label dan selotip.
“Kami meminta kenaikan harga dalam kisaran 12-15%,” ujarnya, dikutip Kamis (26/3/2026).
Direktur Jenderal BAI, Vinod Giri, menyebut industri saat ini berada di bawah tekanan berat. Lonjakan biaya membuat aktivitas operasional tak berkelanjutan. Di sisi pasokan, perusahaan seperti Fine Art Glass Works terpaksa memangkas produksi 40% karena kekurangan gas.
“Kami telah memotong produksi sebesar 40% dan menaikkan harga 17-18%,” kata Nitin Agarwal, CEO perusahaan tersebut.
Perubahan ini memengaruhi pasokan botol kaca ke berbagai sektor, mulai dari bir hingga produk konsumsi lainnya. Industri bir India, yang bernilai US$7,8 miliar atau setara Rp124,8 triliun pada 2024, terancam tumbuh lebih lambat karena hambatan penyesuaian harga.
Krisis energi juga merembet ke pasar air minum dalam kemasan. Sektor ini, dengan nilai US$5 miliar atau Rp80 triliun, melaporkan kenaikan harga 11% karena biaya bahan baku seperti plastik dan tutup meningkat.
Penyebab utama krisis adalah gangguan ekspor gas dari Qatar, yang menyumbang 40% pasokan ke India. Keterlambatan pengiriman aluminium untuk kaleng memperparah masalah logistik. India, sebagai importir gas alam keempat terbesar dunia, sangat rentan terhadap fluktuasi energi Timur Tengah.
Dampak geopolitik terus berlanjut, mengancam kelangsungan industri domestik yang bergantung pada pasokan energi dari wilayah tersebut.
