Kebijakan Baru: Profil BAIS, Mata dan Telinga Panglima TNI yang Bekerja Dalam Senyap
BAIS: Badan Intelijen Strategis TNI yang Berperan dalam Senyap
Penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS yang dilakukan oleh anggota TNI dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) telah menarik perhatian publik. Peristiwa ini memicu pertanyaan mengapa unit intelijen militer tersebut terlibat dalam upaya mengancam warga sipil. Sebagai institusi yang bekerja secara rahasia, BAIS memiliki tugas utama sebagai mata dan telinga Panglima TNI dalam mengawasi ancaman ke pertahanan dari luar negeri maupun dalam negeri.
Kepemimpinan dan Struktur BAIS
BAIS berada langsung di bawah kendali Mabes TNI. Perwira tinggi yang memimpin organisasi ini memiliki pangkat berbeda tergantung matra TNI: Letnan Jenderal untuk TNI Angkatan Darat (AD), Marsekal Madya untuk TNI Angkatan Udara (AU), dan Laksamana Madya untuk TNI Angkatan Laut (AL). Saat ini, jabatan Kepala BAIS (Kabais) dipegang oleh Letjen Yudi Abdimantyo, yang memberi laporan langsung kepada Panglima TNI.
Peran BAIS menjadi semakin krusial di tahun 2026 karena pergeseran pola konflik global. Konflik kini lebih sering melibatkan perang asimetris serta ancaman siber. Selain itu, anggota BAIS juga ditempatkan di kedutaan besar Indonesia di berbagai negara untuk menjalankan tugas diplomasi militer. Mereka bertindak sebagai pengawas awal terhadap perkembangan militer dunia.
Kritik dan Perbedaan Fungsi BAIS dengan Lembaga Lain
BAIS sering dikaitkan dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Intel dan Keamanan Polri. Namun, perbedaan fungsi terlihat jelas: BIN mengkoordinasi intelijen nasional secara makro, sementara BAIS fokus pada informasi strategis militer, seperti kekuatan alutsista musuh dan perlindungan kedaulatan pertahanan. Dalam konteks ini, BAIS bertugas spesifik untuk kebutuhan TNI.
Kasus Mayor SS di Pejompongan
Seorang anggota BAIS, Mayor SS, terlibat dalam aksi demonstrasi besar di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Agustus 2025. Ia ditangkap oleh polisi saat berada di dekat pom bensin, dan identitasnya terungkap melalui kartu tanda keanggotaan yang dibagikan di media sosial. Mayor SS dipersepsikan sebagai provokator, tetapi Mabes TNI membantah klaim tersebut.
“Mayor SS berada di sana untuk melakukan deteksi dan cegah dini terhadap berbagai upaya serta ancaman,” kata Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, ketika memberikan pernyataan di Cilangkap, Jakarta Pusat.
Freddy menegaskan bahwa anggota BAIS tidak bertugas sebagai provokator, melainkan untuk menjaga stabilitas. “Jadi, itu tidak benar, kalau anggota kami ditangkap oleh Polri dan kedua, menjadi provokator!” tambah jenderal bintang dua itu.
Publik tetap mempertanyakan kehadiran anggota BAIS di tengah kerumunan massa, tetapi TNI menegaskan bahwa penempatan ini sesuai dengan penugasannya. Organisasi ini, yang bekerja dalam kesunyian, terus menjadi pilar utama dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi strategis bagi keputusan pertahanan nasional.
