Program Terbaru: AS-Israel Kompak “Gebuki” Iran, Teheran Ternyata Simpan Kejutan
Tingkat Serangan Iran Menurun Signifikan, Teheran Tetap Menyimpan Ancaman
Perang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut, dengan intensitas serangan meluncurkan kejutan. Meski klaim pihak AS menyebut kemampuan militer Iran terhancur, analis menilai Teheran masih mampu mengancam wilayah Timur Tengah. Pada hari ke-15 konflik, jumlah rudal dan drone yang ditembakkan ke negara-negara Teluk berkurang drastis, tetapi ancaman tidak sepenuhnya hilang.
Penurunan Serangan, Tapi Ancaman Masih Berlanjut
Pemerintah AS melalui Gedung Putih mengklaim bahwa kemampuan rudal balistik Iran telah hancur secara fungsional. “Angkatan laut Iran tidak lagi efektif dalam pertempuran, sementara dominasi udara atas mereka berlangsung tanpa gangguan,” tulis Al Jazeera mengutip pernyataan resmi. Operasi militer bernama “Operation Epic Fury” yang dimulai pada 28 Februari, disebut telah memberikan hasil besar. Namun, data menunjukkan bahwa perang jangka panjang mulai memengaruhi strategi Iran.
“Kemampuan rudal balistik Iran telah hancur secara fungsional. Angkatan laut mereka dinilai tidak efektif dalam pertempuran. Dominasi udara yang lengkap dan total atas Iran,”
Setelah 12 hari konflik, laporan intelijen Israel menyebut persediaan rudal Iran berkurang dari 3.000 menjadi sekitar 2.500. Meski demikian, jumlah serangan balasan mereka justru menurun tajam. Pada hari ke-15, Iran hanya meluncurkan empat rudal dan enam drone, dibandingkan 167 rudal serta 541 drone dalam 24 jam pertama. Serangan terhadap Israel juga berkurang drastis, dari ratusan proyektil menjadi hanya satu digit dalam beberapa hari terakhir.
Persediaan Rudal Iran Masih Kuat, Tapi Strategi Berubah
Iran dikenal memiliki stok rudal balistik terbesar di kawasan Timur Tengah. Namun, perang jangka panjang memaksa mereka mengubah pendekatan. Menurut data dari Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab, peluncuran rudal turun 90% dari hari pertama, sementara drone berkurang 86%. Penurunan ini diduga karena Iran kehilangan kemampuan untuk meluncurkan serangan dalam jumlah besar sekaligus, beralih ke taktik provokatif dengan menargetkan objek sipil dan komersial.
“Secara militer, [tindakan Iran] tidak signifikan. Ini yang disebut tembakan provokatif untuk melemahkan sistem peringatan di negara-negara tetangga dan menakut-nakuti orang,”
Deklarasi pihak Teheran menegaskan bahwa mereka hanya menargetkan kepentingan AS. Namun, para ahli menyebut ancaman Iran tidak bergantung pada jumlah serangan, tetapi pada keberlanjutan strategi. Profesor David Des Roches dari National Defense University menyoroti keterbatasan intelijen di lapangan sebagai kendala utama. “Tidak mudah mengidentifikasi peluncur rudal karena banyak jejaknya disembunyikan di lokasi non-militer,” ujarnya.
Strategi Perang Jangka Panjang, Dekentralisasi Ancaman
Menurut peneliti dari German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, Iran sedang berusaha mengubah perang menjadi fase gesekan yang berlangsung lambat. “Mungkin ada ketertarikan untuk menjadikan ini perang jangka panjang, agar lawan kehabisan kemampuan pertahanan lebih dulu,” katanya. Iran juga mengandalkan peluncur bergerak yang sulit dideteksi, memperkuat kejutan di tengah wilayah luasnya.
“Ini adalah perlombaan tentang waktu,”
Dengan mengurangi intensitas serangan, Iran tetap mempertahankan kemampuan untuk mengganggu. Meski kejutan awal terasa, ancaman terus mengalir. Peneliti lain dari Doha Institute for Graduate Studies, Muhanad Seloom, menegaskan bahwa ancaman Iran tidak hanya tentang volume, tetapi juga ketahanan strategi yang terus-menerus.
