AMP
eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sewenang-wenang! Militer Israel Tutup Masjid Ibrahimi di Tepi Barat untuk Ritual Yahudi

Published · Updated · By Thomas Garcia - eksplorasiindonesia.com

Foto : Thomas Garcia - eksplorasiindonesia.com

Masjid Ibrahimi Ditutup Saat Perayaan Yahudi, Akses Jemaah Muslim Dihentikan

Eksplorasiindonesia.com – Masjid Ibrahimi di Kota Hebron, Tepi Barat, tidak dapat digunakan umat Islam untuk beribadah sejak Rabu, 16 September 2026. Militer Israel memberlakukan penutupan hingga Kamis dengan alasan pengamanan bagi pemukim Israel yang menjalankan perayaan hari raya Yahudi.

Kebijakan tersebut menghentikan akses jemaah Muslim ke salah satu situs keagamaan penting di Kota Tua Hebron. Penjagaan di kawasan masjid juga diperketat, sementara sejumlah jalur masuk menuju lokasi ditutup selama periode penutupan berlangsung.

Kementerian Palestina Kecam Penutupan

Kementerian Wakaf dan Agama Palestina menyatakan kecaman atas tindakan tersebut. Penutupan Masjid Ibrahimi dinilai sebagai pelanggaran terhadap hak umat Islam untuk menjalankan ibadah di tempat suci itu.

Kementerian itu meminta lembaga internasional serta organisasi hak asasi manusia mengambil langkah untuk menghentikan pelanggaran yang disebut terus terjadi terhadap masjid. Mereka juga menekankan pentingnya jaminan akses bebas bagi Muslim ke Masjid Ibrahimi.

Masjid Ibrahimi memiliki posisi khusus bagi warga Palestina dan umat Islam. Karena itu, pembatasan akses ke bangunan tersebut tidak hanya berdampak pada pelaksanaan salat, tetapi juga memperbesar ketegangan di tengah situasi keamanan yang sudah sensitif di Hebron.

Kekhawatiran atas Perubahan Status Masjid

Direktur Masjid Ibrahimi, Motasem Abu Sneineh, memandang penutupan ini sebagai bagian dari peningkatan tekanan yang dilakukan Israel terhadap kompleks masjid. Ia menilai langkah tersebut berkaitan dengan upaya penguasaan lokasi secara bertahap.

“(Masjid Ibrahimi) Tempat suci Islam eksklusif meliputi semua aula dan halamannya,” kata Motasem Abu Sneineh.

Abu Sneineh menegaskan bahwa penutupan secara paksa merupakan serangan langsung terhadap kebebasan menjalankan ibadah. Kebebasan itu, katanya, telah dijamin dalam berbagai konvensi internasional.

Masjid Ibrahimi berada di pusat perdebatan panjang mengenai akses, pengamanan, dan penggunaan tempat suci di Hebron. Pembatasan yang diberlakukan saat ritual keagamaan Yahudi membuat jemaah Muslim tidak dapat memasuki seluruh area masjid, termasuk aula dan halaman yang biasanya digunakan untuk kegiatan ibadah.

Sekolah Turut Terdampak

Pengamanan ketat tidak hanya memengaruhi jemaah. Polisi dan tentara Israel menutup pos pemeriksaan serta gerbang elektronik yang mengarah ke masjid. Akses bagi siswa dan tenaga pengajar di Sekolah Dasar Ibrahimi untuk putra serta Sekolah Dasar Al Fayhaa untuk putri juga terhambat.

Kondisi itu menyebabkan kegiatan belajar mengajar di Sekolah Ibrahimi berhenti sepenuhnya. Sementara itu, proses pendidikan di Al Fayhaa mengalami gangguan akibat pembatasan pergerakan di sekitar kawasan masjid.

Dampak terhadap sekolah menunjukkan bahwa penutupan di Kota Tua Hebron meluas melampaui aktivitas keagamaan. Ketika jalur menuju masjid dibatasi, warga yang tinggal, belajar, dan bekerja di lingkungan sekitarnya ikut menghadapi kesulitan untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.

Masjid di Kota Tua Hebron yang Dikendalikan Israel

Masjid Ibrahimi terletak di Kota Tua Hebron, wilayah yang berada di bawah kendali penuh Israel. Di kawasan tersebut terdapat sekitar 400 pemukim Yahudi ilegal yang mendapat pengawalan sekitar 1.500 tentara Israel.

Kehadiran pasukan dalam jumlah besar serta sistem pemeriksaan di sekitar lokasi telah lama membentuk keseharian warga Palestina di kawasan itu. Pos pemeriksaan, gerbang elektronik, dan pembatasan jalur kerap menentukan siapa yang dapat melintas menuju tempat ibadah, sekolah, maupun area permukiman.

Nilai keagamaan Masjid Ibrahimi menjadikan setiap perubahan akses memiliki arti besar. Bagi jemaah Muslim, bangunan ini bukan sekadar lokasi bersejarah, melainkan ruang ibadah yang digunakan secara langsung. Ketika masjid ditutup, kesempatan untuk menjalankan ibadah berjemaah dan mengakses situs suci tersebut ikut terputus.

Pembagian Area Sejak 1994

Pengaturan akses di Masjid Ibrahimi berubah secara mendasar pada 1994. Israel membagi kompleks masjid itu setelah pembantaian yang dilakukan warga Israel dan menewaskan 29 jemaah Palestina.

Dalam pembagian tersebut, 63 persen area dialokasikan untuk Yahudi, sedangkan 37 persen diperuntukkan bagi Muslim. Pengaturan itu terus menjadi sumber keberatan di pihak Palestina, terutama ketika akses Muslim kembali dibatasi atau dihentikan pada waktu-waktu tertentu.

Penutupan pada 16–17 September 2026 kembali menyoroti persoalan kebebasan beribadah di Hebron. Di satu sisi, alasan keamanan dikemukakan untuk mengatur perayaan Yahudi. Di sisi lain, otoritas Palestina dan pengelola masjid menilai keputusan tersebut menghapus hak Muslim untuk memasuki tempat suci mereka.

Bagi warga yang terdampak, persoalan ini tidak berhenti pada penutupan selama dua hari. Akses ke masjid, sekolah, dan lingkungan Kota Tua Hebron berkaitan langsung dengan kehidupan keagamaan, pendidikan, serta pergerakan harian masyarakat Palestina di kawasan tersebut.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Sewenang wenang Militer Israel Tutup Masjid?

Sewenang wenang Militer Israel Tutup Masjid is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sewenang wenang Militer Israel Tutup Masjid matter?

Sewenang wenang Militer Israel Tutup Masjid matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.